Monday, January 12, 2009

Just let it be…

... but now, I can be wiser … for not blaming my past, all sweet and bad memories, and also myself.
… but now, I can be more calm for not grumbling and keep guestioning why this and that (not) happened in my life.
… but now, I can be more honest … for realizing the logic and realistic situation, for letting all things happened as the way they are.
I’ve done my best this far. Then, so be it…
Now, let’s make the world's smiling.

Thursday, December 18, 2008

Persahabatan Bagai Kepompong...

Ditulis untuk seorang teman baik. Mungkin memang gak penting, tapi kamu harus membacanya, siapa tau kita bisa belajar sesuatu dari tulisan ini.

Persahabatan bagai kepompong
Mengubah ulat menjadi kupu-kupu
Persahabatan bagai kepompong
Hal yang tak mudah berubah jadi indah
Persahabatan bagai kepompong
Maklumi teman hadapi perbedaan
Persahabatan bagi kepompong
Pasti kamu tau lagu itu atau seenggaknya pernah dengar. Menurut kamu, apa sih isi lagu itu? Kenapa persahabatan dianalogikan seperti itu ya? Unik memang. Aku baca blog ini, dan darinya aku belajar sesuatu. Makanya aku mau cerita ke kamu.
Penganalogian yang sangat manis dari kata persahabatan dengan kata-kata kepompong sebagaimana digambarkan pada lagu tersebut dilatar-belakangi oleh sebuah pengetahuan logis bahwa kepompong merupakan suatu fasa yang dialami oleh ulat untuk bermetamorfosis menjadi kupu-kupu. Mendengar kata kupu-kupu, maka yang terbayang adalah serangga yang indah yang terbang dari bunga satu ke bunga lainnya dan membuat taman bunga nampak lebih cantik.
Hi, aku mau flashback dulu tentang kisah persahabatanku dengan kamu, satu dari sekian sahabat yang menempati layer pertama di hatiku. Iya, itu kamu.
Persahabatan antara aku dan kamu. Persahabatan ini memang berawal dari sebuah tempat dan suasana yang tidak terduga. Apakah ini kebetulan? Mungkin saja, aku tidak tau. Atau Tuhan memang mentakdirkan kita bertemu? Entahlah, akupun tidak mengerti. Seingatku, kontribusiku hanyalah pada keisengan untuk meng-sms mu saat perjalanan pulang setelah itu. Tapi percayakah kamu bahwa tidak ada sedikitpun tendensi negatif terhadapmu yang hinggap di kepalaku saat itu? Aku percaya kamu tau itu.
Waktu berlalu.... akhirnya kita dekat. Dan menurutku, persahabatan kita ini unik. Tidak memakan waktu lama untuk membuat kita tau dan paham satu sama lain. Banyak hal sudah kita lewati sampai hari ini. Seneng, sedih, sepetan dan olok-olokan, kebodohan, kemarahan, ngambek, cerita-cerita gak penting, juga perhatian tulus, dan banyak hal lain, semuanya ada di situ.
Persahabatan ini juga mengesankan. Setidaknya buatku. Kita mengalami semua proses menyenangkan, mengasyikkan, dan juga menyedihkan. Berbincang dengan kamu adalah hal yang aku nantikan setiap harinya. Padahal topiknya hanya hal -hal tidak penting seputar film, musik, pekerjaan, mimpi, hobi, masa lalu dan hal remeh temeh lainnya. Pun kala kita bertemu. Aktivitasnya sangat monoton: nongkrong, nonton, makan, masak indomie ataupun nonton tv. Tapi aku menikmati semua itu. Kecerdasan dan kesabaranmu mengesankan hati. Kekeraskepalaan dan kecuekanmu seringkali membuatku kesal dan cemberut. Tapi aku tau kamu mengasihiku dengan tulus. Mengasihiku dengan caramu sendiri, cara yang sedikit berbeda dari cara orang lain yang kutemui.
Tapi, hari ini, mungkin kita harus belajar ”berfikir mendalam” untuk memahami sesuatu yang lain. Memahami bahwa kepompong persahabatan ini haruslah dijaga sedemikian rupa, agar mampu melahirkan kupu-kupu yang indah. Kupu-kupu yang tidak cacat, kupu-kupu yang sempurna, yang akan hinggap dari satu bunga ke bunga yang lain dan membantunya pada proses penyerbukan. Kupu-kupu yang juga akan memperindah taman bunga.
Hari ini, mungkin kita memang harus ”berdiam diri sejenak” di dalam kepompong ini. Bermeditasi dan menyempurnakan diri, agar mampu membentuk kepompong persahabatan kita ini menjadi kepompong yang penuh dengan kebaikan dan manfaat.
Hari ini, mungkin kita harus banyak ”ber-refleksi” untuk menjadi ikhlas atas apa yang sudah terlewati. Buatku pribadi, mengubah kebiasaan selama ini bukanlah hal yang mudah; menghapus keterlibatanmu dari setiap rutinitas hari, adalah sebuah kompleksitas aktivitas yang membutuhkan energi; dan menjadi ikhlas adalah proses yang sangat menyakitkan hati. Aku bahkan mengawali semuanya ini dengan menangis. It isn't hard actually, but painfull. Dan aku tau bahwa ini adalah hal terbaik kita dan untuk kita.
Maafkan aku, menempatkanmu pada posisi yang rumit. Aku tau, aku salah. Dan kamu tau bahwa persahabatan ini sangat berharga buatku. Setelah banyak hal kita lewati, biarlah kita belajar mengasihi dengan segala ketulusan hati. Promise me that someday, we'll make this friendship keep warm and intimate. Sama seperti kamu mengasihiku, aku juga mengasihimu, sahabatku.

Wednesday, October 22, 2008

Independent VS Childish

Sebagian besar orang, terutama temen-teman kantor mengenal saya sebagai orang yang mandiri dan tidak manja. Pada umumnya memang hal itulah yang terlihat dari cara saya berfikir dan bersikap (narsis mode on*). Dan ketika kemandirian seseorang diasosiasikan dengan tata urutan kelahiran dimana anak-anak sulung biasanya akan tumbuh menjadi anak-anak yang mandiri ketimbang anak bungsu yang berkecenderungan manja, maka tak jarang yang terkejut saat mengetahui bahwa saya adalah anak bungsu di keluarga.

Sebenarnya, tidak dapat dipungkiri bahwa saya memiliki kecenderungan manja saat kecil. Apalagi sebagai anak paling kecil, jarak umur antara saya dan kakak laki-laki (mas) adalah 9 tahun, jarak umur yang mungkin cukup jauh untuk semakin menjustifikasi saya memiliki privilege sebagai anak manja.

Saat saya memutuskan kuliah di Bandung, situasi dan kondisi jauh dari orang tua, akhirnya membawa saya pada pola pikir yang berbeda -Harus mandiri dan tidak manja-. Apalagi dengan kenyataan bahwa orang tua saya memiliki keterbatasan finansial untuk support saya, maka mau tidak mau saya harus tabah menjalani hidup di tanah rantau. Cailah... hehehe... Maka menjadi mandiri adalah satu-satunya pilihan.

Pasca lulus kuliah dan akhirnya bekerja, saya pun harus menghidupi diri sendiri dan tidak lagi minta uang pada orang tua. Malu dong, dah gedhe masak masih minta ortu. Bahkan keterbatasan keuangan dan fisik orang tua saya sekali lagi memaksa saya harus menjadi pribadi yang mandiri dan ulet untuk bekerja dan sedapat mungkin men-support mereka. Sidejobs berupa projects, menulis, atau nerjemahin text book, akhirnya jadi salah satu bagian perjuangan saya membangun sebuah kemandirian hidup.

Sampai dengan saat ini, saat saya sudah menikah, dan memiliki pekerjaan yang lebih settle, saya pun tetap ingin membangun diri sebagai pribadi yang independent. Tapi jauh di dalam sana... tidak dapat disangkal bahwa saya sebenernya memiliki karakter manja. Tidak banyak yang tau memang. Bahkan teman-teman dekat saya. Kalopun ada yang tau, togh saya tidak pernah berlaku manja sama mereka. Malu dong! Hanya pada beberapa orang tertentu saja saya berani bersikap kolokan. Selain Alison ada seorang teman yang dengannya saya merasa nyaman dan tidak malu untuk berlaku kekanak-kanakan atau kolokan. Hiks.

Monday, September 22, 2008

Kenikmatan Sebuah Fluktuasi Kehidupan

Ini adalah tahun kedua pernikahan saya dan suami. Tahun pertama, kami lewati dengan penuh sukacita (review nya ada di sini). Demikian pun halnya dengan tahun kedua ini. Hanya memang ada yang berbeda kali ini. Dinamisasi kehidupan di tahun kedua ternyata memang lebih seru dan lebih complicated dari tahun pertama. Begitulah.... adanya. Ketawa dulu agh... hehehe...

Di tahun kedua, Gusti Allah yang empunya semesta ini sedang mengajari kami sesuatu yang berbeda dari sebelumnya. Sebagai pihak yang punya kewenangan penuh atas kehidupan ini, Dia memang berhak membawa kita kepada jalan yang mulus, tapi Dia juga berhak mengajari kita melewati jalan berkerikil. Suatu proses fluktuatif. Lihatlah, semester pertama tahun ini seolah semua grafik kehidupan naik dengan mulusnya. Kami dibawa kepada optimisme-optimisme kehidupan hingga akhirnya Dia mengajari kami satu fase kehidupan yang berbeda sejak 3 bulan yang lalu. Dia mengajari kami cara menapaki jalan yang bergelombang. Dia mengajari kami meng-adjust keterbatasan, dan Dia mengajari kami menatap kenikmatan dari sudut pandang yang berbeda.

Nyatanya memang jalan yang sedang kami lewati ini tidak kalah seru dengan jalan-jalan mulus sebelumnya. Beberapa kali saya memang bersungut-sungut. Tapi, suami yang adalah pemimpin dalam perjalanan ini, masih selalu tersenyum. Dia menggandeng tangan saya dan membimbing saya dengan kesabarannya. Bahkan dalam penat dan tekanan pun, dia tetap menunjukkan optimisme bahwa kami pasti bisa melewatinya. Senyum dan bahkan tawanya membuat saya menyadari untuk "membiarkan kehidupan ini bergulir sedemikian adanya sesuai dengan kehendak Yang Maha Kuasa. Bagian kita mengikuti nya saja".

Ini lah salah satu kenikmatan dari sebuah fluktuasi kehidupan. Satu hal yang saya kagum pada proses ini adalah ketabahan dan kesabaran suami saya melewatinya. Saya menatapnya dengan penuh haru. Saya kagum dan bangga punya suami dengan kualitas diri sedemikian rupa. Meski ini belum berarkhir, nyata sudah saya harus mengucap syukur pada Tuhan yang sudah mengijinkan kami melewati jalan ini. Di sini, banyak pelajaran berharga. Thanks babe, I’ m blessed to have u. Sure. :-D

Sunday, July 13, 2008

True Friendship

Ketika kita menyebut hidup sebagai sebuah perjalanan, maka ada banyak "jenis jalan dan pemandangan" yang kita temui di jalan yang kita lalui. Berbagai jenis jalan dan pemandangan itu bisa jadi merupakan pengalaman yang sangat mudah dilupakan, atau justru amat sangat berkesan.


Bagi saya pribadi, dari sekian pengalaman hidup yang saya lalui sampai hari ini, salah satu bagian dari pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan adalah tentang persahabatan masa kuliah saya. Berteman dan akhirnya bersahabat dengan Mery, Dewi, Lydia, dan Santi sejak masuk ITB tahun 1997 sampai dengan hari ini, adalah salah satu alasan yang membuat saya bisa bilang bahwa masa kuliah adalah salah satu masa yang paling luar biasa dalam hidup saya. Melewati berbagai "jenis jalan dan jenis pemandangan hidup" selama sepuluh tahunan bersahabat dengan teman-teman yang luar biasa ini membuat saya mengerti bagaimana masing-masing kami adalah pribadi yang unik.

Sampai hari ini, telah kami lalui berbagai hal mulai dari Nilai A, Nilai D, gagal ujian, ngulang mata kuliah, sakit, makan indomie, miskin, lulus, kegagalan, kerja, makan enak dan have fun, menikah, hamil, melahirkan, mulai "mapan", dan sebagainya. Kalau saya runut ke belakang, rasanya memang telah banyak hal kami lalui selama persahabatan kami. Banyak hal yang saya petik dan pelajari dari persahabatan ini; kasih yang tulus, canda tawa yang menghibur, dukungan dan doa yang tidak pernah berkesudahan dan berbagai pembelajaran yang lain.

Tapi ibarat hidup adalah sebuah sistem dan kami hanya sekedar subsistem-subsistem kecil dari keseluruhan sistem kehidupan yang kompleks, maka kami haruslah tunduk pada mekanisme sistem yang diatur oleh Sang Pencipta. Kekuasaan dari Yang Maha Kuasa untuk menciptakan, memelihara, maupun mengambil subsistem yang diciptakanNya merupakan otoritas yang tidak bisa ditiadakan oleh siapapun.

Dia, Yang Empunya skenario kehidupan telah mengaturnya bagi kami. Ada kebahagiaan, ada juga kesedihan. Ada sukacita, ada dukacita. Dan sekali lagi, Sang Pencipta telah mengaturnya.
Hari ini, ketika Tuhan akhirnya memanggil salah satu sahabat terbaik kami, Santi, tidak bisa dipungkiri bahwa ini adalah sesuatu yang menyesakkan hati. Bukan hal yang mudah untuk bisa menenangkan diri. Dada yang terisak dan kesedihan yang membuncah, adalah hal yang Tuhan ijinkan untuk kami alami hari ini. Mungkin memang butuh waktu untuk mengerti dan memahami ini. Tapi kami selalu mempercayai bahwa Tuhan adalah Allah yang sempurna dan sempurna juga untuk setiap rancangan-rancanganNya bagi setiap kami.

Selamat Jalan Santi, telah kamu temukan damai dan kasih sejati di pangkuan Bapa Surgawi. Terimakasih untuk kebaikan hati, ketulusan, canda tawa, teladan keteguhan jiwa, dan doa-doa yang kamu berikan selama persahabatan kita. Kamu memang luar biasa. We love u, San!! Always.

Monday, June 02, 2008

"Fluktuasi Energi"

Sejak bekerja di tempat saya sekarang, saya mengalami beberapa kali fluktuasi energi. Energi di sini saya maksudkan sebagai energi dalam bekerja. Ada saat dimana energi bekerja saya menjadi sangat besar, meledak-ledak penuh ambisi. Saat seperti itu, rasanya segala hal pengen saya lakukan. Mimpi dan idealisme saya menjadi bahan bakar setiap harinya. Hanya satu dibenak saya saat itu: bahwa saya ingin berkontribusi dalam perubahan di negeri ini.

Mulukkah semua ini? Saya rasa tidak. Selama Merah-Putih itu masih menggetarkan hati dan jiwa, saya rasa semua orang akan melakukan hal yang sama. Dan saya bukanlah tipikal orang yang mencoba mencari "kenyamanan" dalam sistem yang masih perlu banyak dibenahi ini. Saya masih punya nurani dan masih selalu mencoba berkarya dengan hati.

Ahhh.... Tapi nyatanya saya hanyalah manusia biasa yang tidak selalu bisa menjaga konsistensi hidup. Saya menjadi lemah ketika idealisme saya membentur tembok. Saya menjadi rapuh ketika mimpi saya tentang negeri ini seolah bertemu dengan jalan buntu. Energi saya seolah habis berubah menjadi sikap-sikap pesimistis ketika melihat pilihan-pilihan keputusan dibuat lebih pada keteraturan dan bukan terobosan.

Beberapa hari yang lalu, rasanya habis sudah energi yang berkobar-kobar itu. Saya lelah. Saya hampir menyerah.

Saya mencoba berfikir.

Bertemu dan berdiskusi dengan atasan Jumat siang kemaren membuat hati saya luluh. Harapan yang ditebarkannya dalam diri saya, juga mimpi-mimpinya tentang negeri ini membuat saya terhenyak. Saya hampir menangis. Menangis lega. Nyatanya saya masih menemui orang-orang yang memiliki mimpi yang sama dengan saya.

Kembali saya merenung. Mencoba mengumpulkan kembali energi-energi mimpi itu. Mungkin memang proses belajar saya di sini masih harus diteruskan. Entah sampai kapan. Namun biarkanlah saat ini saya melakukan yang terbaik melalui media ini.