Tuesday, February 08, 2011
... Perbedaan Bukanlah Kesalahan...
Sunday, February 06, 2011
Cerita Sebuah Perjalanan
Meski diawali dengan keribetan dan kekacauan saat persiapan, perjalanan ke eropa kemaren termasuk perjalanan yang saya syukuri dan saya bilang sangat berkesan. Sebagaimana saya bilang sebelumnya, setiap orang pasti berharap hal-hal menyenangkan terjadi dalam hidupnya, termasuk dalam perjalanan yang dilakukannya. Tapi faktanya, perjalanan sering kali membuahkan sesuatu yang tak terduga. Sesuatu yang tak terduga itu bisa jadi menyenangkan ataupun tidak menyenangkan. Entah apa pendapat orang lain tentang cerita tidak enaknya di perjalanan, bagi saya pengalaman tidak selalu diperoleh dari hal hal yang menyenangkan.
gambar diunduh dari http://www.istockphoto.com/stock-photo-407308-backpackers.php
Thursday, October 14, 2010
Antara Teman dan Konflik
Friday, April 23, 2010
Refleksi di Ujung Hari
Waktu berlalu, saya lebih banyak diam. Mengingat airmata di ujung hari kemarin membuat saya masih sulit berfikir jernih.
Tapi kemudian saya ingat sebuah kalimat. God's way is God's love, itulah yang diyakini oleh seorang Khan di film "My Name is Khan". Saya suka banget kalimat itu, meski menurut saya, memahaminya bukanlah hal yang mudah karena faktanya, dari sudut pandang manusia, jalan Tuhan "tidak selalu" jalan yang "terlihat" indah, manis, dan mulus. Banyak jalan "sakit" yang mungkin dipakai oleh Yang Kuasa untuk membuka mata atau membuat hati kita mengerti dan memahami sesuatu. Jalan "sakit" tentunya adalah sebuah proses yang tidak mudah, mungkin ada air mata disana. Pun membangun optimisme sebuah ending yang happy bukannya gampang, butuh "iman" disana.
Tapi, kalo mau flashback ke hari-hari yang pernah terlewati, bukankah cintaNya Tuhan terbukti di sepanjang jalan yang kita lalui. Saat kita jatuh, bukankah Dia ada disana untuk menolong. Saat kita takut, bukankah Dia ada disana untuk memeluk. Saat kita terluka, bukankah Dia ada disana untuk menyembuhkan. Saat kita hilang arah, bukankah Dia ada di sana untuk menuntun. Saat kita sendiri, bukankah Dia ada di sana untuk menemani. Bukankah tidak ada alasan satupun untuk meragukan cintaNya? Tidak ada, tapi memang jalan Tuhan bukanlah jalan "instant".Jadi, bila bangun pagi harimu disambut dengan kabut, bersabarlah, mungkin itu caraNya buat ngajarin kamu untuk belajar lebih mempercayakan harimu padaNya. Bila harimu menjadi sedikit berbeda karena Dia mengijinkan ada airmata di ujung harimu, bersabarlah mungkin itu caraNya untuk "membentuk" karaktermu. Bila jalan yang harus kamu lalui adalah jalan berkerikil atau berlobang, bertekunlah, mungkin itu adalah caraNya buat bilang bahwa kamu harus mengencangkan pegangan tanganmu kepadaNya.
So, cheer up your days friend for God never leave you!
Ruang 401, Depok, 23 april, 2010, 2.14
pic was downloaded from: http://www.google.co.id/imglanding?q=prayer%20images&imgurl
Sunday, April 18, 2010
Artis dan Politik Popularitas
Meski saya sendiri kurang bisa membayangkan kalau Julia Perez menjadi seorang wakil bupati, tapi dalam konteks ini, Julia Perez tidaklah bersalah apa-apa, karena dia punya hak untuk itu. Bahwa setiap warga negara memiliki hak untuk berpartisipasi di bidang politik termaktub dalam konstitusi negara.Yang saya bingungkan: Apa yang dipikirkan oleh orang-orang dari 8 partai yang mengusung nama Jupe sebagai bakal calon wakil bupati Pacitan? What's in their minds actually? Entahlah.
Fenomena artis dan politik yang merebak beberapa tahun terakhir ini seolah semakin menegaskan bahwa di kancah perpolitikan negeri ini, popularitas masih "cukup" mendominasi proses pemenangan suara publik, -sebuah politik popularitas, artinya the more popular you are, the more chance you have to be elected. Saya pribadi bukannya tidak setuju bahwa popularitas itu penting, tapi menurut saya, popularitas hanyalah sekedar berperan sebagai entry point saja. Lagi pula, popularitas mestinya tidak dimaknai sekedar seberapa banyak masyarakat mendengar atau familiar dengan sebuah nama. Tapi mestinya dipahami sebagai "popularitas dari sebuah kredibilitas". Kredibilitas dimaksud adalah kredibilitas untuk mengemban tugas dibidang politik dan pemerintahan, bukan bidang entertaintment.
Kredibilitas bidang politik dan pemerintahan bukan sesuatu yang bisa dilakukan secara otodidak, karena ini menyangkut hajat hidup orang banyak. Anda tidak bisa berstrategy sekedar "coba-coba" dalam memimpin karena disana jutaan jiwa bergantung pada keputusan yang anda ambil. Maka ketika kriteria popularitas diagung-agungkan, Pilkada hanya sekedar akan berhenti pada tercapainya proses politik yaitu "terpilihnya kepala daerah" saja, sementara proses pembangunan (terutama ekonomi) yang menjadi core demokrasi untuk 5 tahun selanjutnya hanya akan menjadi ajang "coba-coba".
Saya pribadi setuju dengan pernyataan Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi, yang mengungkapkan bahwa pemerintah akan merevisi UU No 32 tahun 2004 khususnya pasal mengenai pemilihan Kepala Daerah. Bahwa nantinya akan ada persyaratan tambahan untuk meloloskan bakal calon yaitu syarat berpengalaman di parpol, organisasi kemasyarakatan, atau pernah menjadi anggota legislatif. Meski belum tentu akan "menjamin" kepastian ketercapaian tujuan dari proses demokrasi, menurut saya hal tersebut tujuannya baik. Selain untuk meminimalisasi politik popularitas juga untuk menyaring orang-orang "kredible" di kancah Pilkada. Harapan akhirnya adalah tercapainya tujuan "inti" dari demokrasi yaitu meningkatnya kesejahteraan masyarakat.
gambar karikatur diambil dari web ini: http://ardyaweb.wordpress.com/2008/12/01/karikatur-artis-pilkada-2008/
Tuesday, April 06, 2010
Korupsi dan Jebakan "Harga Diri"...
Ada yang mengusik saya. dan sudah lama saya ingin menuliskannya. mungkin sejak 2 minggu yang lalu tepatnya. Sejak kasus Gayus Tambunan (GT) merebak dibicarakan oleh banyak orang. Kasus GT memang bukan kasus korupsi paling heboh yang pernah terjadi, karena ratusan kasus korupsi dari nominal kecil hingga milyaran pernah terjadi di negeri ini. Sayangnya, sebagian besar kasus itu tidak terselesaikan dengan semestinya. Kenapa tidak semestinya? menurut saya karena tidak-sebandingnya leveling korupsi (tingkat keparahan korupsi yang indikatornya bisa dilihat dari besarnya kerugian negara yang diakibatkannya) dengan ganjaran hukuman yang diberikan kepada si koruptor. Bayangkan! Koruptor milyaran rupiah hanya diganjar hukuman barang 4-5 tahun. Aghh... bener-bener kacow sudah... :-(Korupsi di negeri ini memang sudah parah. Parah sekali malah. Banyak orang di setiap layer pemerintahan (pusat dan daerah), kepolisian, politisi, kejaksaan, dan sebagainya seolah "menjadikan" korupsi sebagai bagian dari kebiasaan yang dilestarikan. Mereka yang semestinya mengemban tugas melayani masyarakat justru menggunakan kewenangan yang mereka miliki untuk memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya dari kelemahan sistem yang ada, tanpa pernah berfikir berapa juta orang di negeri ini harus menderita karena ulah mereka.
Menyatakan bahwa korupsi adalah contoh "kekhilafan" yang bisa terjadi pada setiap pribadi ketika "rapuhnya benteng diri" bertemu dengan "kesempatan", atau meng-klaim bahwa "budaya korupsi" adalah "hasil bentukan lingkungan", bagi saya tetap saja tidak "tollerable". Bahwa kesalahan adalah bagian dari ketidaksempurnaan manusia dalam menjalani kehidupannya adalah pernyataan tidak terbantahkan yang seringkali menjadi senjata manusia untuk melegalisasi berbagai pilihan-pilihan tindakannya yang melawan norma. Bahwa dosa adalah bagian dari hidup manusia adalah benar. saya tidak akan munafik soal ini karena saya dengan segala keingin-tahuan saya terhadap banyak hal seringkali terjebak dalam situasi pemberontakan terhadap berbagai norma. tapi di value saya, korupsi adalah dosa keji dibandingkan dosa-dosa lainnya. karena darinya dibuahkan kesengsaraan besar sebuah negeri.
Menurut saya, intinya adalah nurani. Banyak orang di negeri ini seolah kehilangan nuraninya. Kita seringkali menempatkan value uang diatas segalanya, hingga tidak sadar bahwa kita sudah men-zolimi rakyat banyak. Kita seolah terjebak dalam pendefinisian harga diri yang melenceng jauh dari nurani dan kata hati. Harga diri yang menempatkan value materi di atas nilai-nilai kemanusiaan sejati. Harga diri yang menempatkan gaya hidup "wah" diatas nilai-nilai hakiki. Suatu kondisi yang menyangkal nurani atas nama "kesenangan diri".
Di sini, korupsi dipandang sebagai jalan singkat menuju pemenuhan "harga diri" yang terdifinisi dengan salah kaprah. Hasilnya, negeri ini dipenuhi oleh ribuan koruptor. Menyedihkan dan memprihatinkan.... :-(
Aghhh........
Saya bermimpi,
seandainya setiap orang merenungi diri, apa isi nurani, mungkin tidak akan ada korupsi lagi di negeri ini.
gambar diunduh dari http://www.cartoonstock.com
Sunday, April 04, 2010
"Depok" di Mata Saya: Dulu dan Kini...
Ya, sudahlah. lupakan. Hari ini, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, saya kembali nge-blog. Semoga cukup konsisten untuk menekuninya lagi. So guys, here I am again. Hehehe...
Kali ini saya mau bercerita mengenai Depok, kota tempat saya menghabiskan waktu selama setahun terakhir ini. Setelah hampir 10 tahun tinggal di Bandung, pindah ke Depok (meski hanya temporary) di awal Februari 2009 kemarin bukanlah hal yang mudah bagi saya. Kalo bukan karena urusan "sekolah", saya mungkin tidak akan mau pindah ke Depok. Hehehe... Emmm... saya rasa masalahnya bukan di Kota Depoknya deng, tapi di sayanya yang tidak mau ninggalin Bandung. Hehehe.
Be Frankly, Bandung dengan segala kenyamanannya membuat saya tidak terlalu "minat" terhadap "Kota Depok" pada awalnya. Bagaimana tidak? Urusan mata, jelas Depok kalah dari Bandung. Tempat nongkrong di Depok tidak banyak. Kalaupun ada satu ato dua, tetap saja tidak se-cozy cafe-cafe di Bandung. Pun mall-mall di Depok sangat "boring designnya". Maklumlah, saya demen nongkrong anaknya.
Urusan perut, tidak bisa disangkal Bandung adalah gudangnya makanan enak dan murah. Bandingin ama makanan di Depok yang gak variatif dan tidak enak. Nasinya aja keras banget. hikshiks... perut saya kan bukan "selepan beras" (mesin penggiling red). Belum lagi urusan udara. Huaaghhh, Depok panas teuing. Mungkin ada yang menyangkal dan bilang, "Agh kayak Bandung gak panas ajah!". Hehehe... bener, Bandung memang udah panas juga sekarang ini, tapi kalo di Bandung, gerahnya udara siang hari tidak akan terasa lagi kalo kita sudah masuk ke dalam rumah (pahadal rumahnya gak ber AC). Apalagi kalo tinggal di Bandung utara kayak saya. Hehehe...
Alasan terakhir adalah berkaitan dengan urusan hati, dan mungkin inilah alasan terberatnya karena toh tiga alasan pertama tadi hanya butuh waktu untuk penyesuaian diri saja. Berkaitan dengan hati, jauh dari Alison benar-benar bukan ide yang baik buat saya. Hehehe,,, jadi mungkin masalahnya memang bukan karena Depoknya, tapi di sayanya. Maklumlah sejak tahun 1997 saya sudah mulai terbiasa dengan udara Bandung.
Itu opini saya dulu pas pertama kali "tinggal" di Depok. Sekarang, setelah setahun menjadi penghuni gelap tetap kota ini, apakah opini saya berubah?
Berbicara mengenai urusan mata, perut, udara dan hati mungkin opini saya tidak banyak berubah. Bandung is still the best, meski saya sudah mulai menemukan beberapa tempat makan dan nongkrong yang enak di Depok. Tapi value added tinggal di Depok juga besar banget buat saya, bahkan saya mulai bisa bilang bahwa "after Bandung, Depok is a place where my brain grows up much" karena di sinilah saya belajar. Belajar dalam arti sesungguhnya. Iklim kampus yang edukatif, diajar oleh dosen-dosen yang cerdas, berkawan dengan orang-orang yang baik, pinter dan lucu (cenderung gila saya rasa... :-D), membuat hari-hari di Depok adalah hari-hari yang menyenangkan.
Jadi kini, bagi saya, Depok adalah bagian dari proses perjalanan hidup yang saya nikmati dan syukuri, karena saya menemukan banyak pelajaran di sana. Pelajaran tentang arti ketekunan, pertemanan, ketulusan, kasih sayang, air mata, perhatian, kemahabesaran Yang Kuasa dan banyak lagi. Bagi saya, apapun itu adalah sesuatu yang saya syukuri sampai hari ini, yang mudah-mudahan membentuk saya menjadi pribadi yang lebih baik ke depannya.
Tuesday, March 24, 2009
Mana Rute Terpilih Untuk Pengambilan Keputusanmu?
Saturday, March 07, 2009
Sebuah Idealisme Bernama ”Kepuasan Intelektual”
Berkaitan dengan pekerjaan, ada beberapa sifat buruk saya (sebenernya saya punya banyak sifat buruk, tapi yang diceritain 3 aja... hihihi..:-D). Pertama, saya bukan tipikal pekerja keras. Bukan sama sekali. Mungkin banyak orang melihat saya sebagai hard worker, tapi pada kenyataan sebenarnya saya memiliki kecenderungan sebagai ”pemalas”. Nonton film, maen/hang out, nongkrong sama teman-teman, makan, tidur dan internetan adalah hal-hal yang saya sebut sebagai ”kesenangan hidup”. Intinya, saya ini penikmat hidup. Beneran. Bahkan, saya bisa jadi memilih hang out sama temen-temen saat semestinya saya harus menyiapkan ”something serious” untuk esok harinya. Huhuhu... parah!
Wednesday, March 04, 2009
Kepingan Puzzle Kehidupan
I just got home after having chit-chat with a close friend in Citos. Emm… sebenernya rencana untuk kongkow bareng sama si bapak satu ini memang dah dari 2 mingguan yang lalu. Sayangnya karena kesibukan manager satu ini, beberapa kali pertemuan mesti dipending. Hehehe…Merenungkan hal ini bikin air mata saya ingin tumpah rasanya.To be honest, i keep struggling to know and to understand this.
Tuesday, February 17, 2009
Pria macam apa yang dapat menaklukan hatimu?
Hari ini, pas makan siang di kantin, seorang teman sekelas, cewek, bertanya sama saya, ”Kris, pria macam apa yang bisa menaklukan hatimu?” Mungkin setiap wanita akan memiliki jawaban yang beda-beda terhadap pertanyaan ini. Bisa karena kebaikannya, kegantengannya, ke-macho-annya, ke-seksi-annya (boso opo ini?), kekayaannya, dan sebagainya. Itu sah-sah saja. Tidak ada jawaban benar ataupun salah atas pertanyaan ini. Togh ini bicara mengenai apa yang menyangkut ”kenyaman hati” yang mana relativitasnya sangat tinggi.
Tapi bagi saya pribadi, pria cerdas adalah jenis pria yang bisa menaklukan hati. Mereka adalah laki-laki yang sering kali membuat saya terkagum-kagum sambil meneriaki dalam hati, ”Anjaasss... cerdas banget ni orang!”. Mereka juga adalah orang-orang yang membuat saya nyaman berada di dekatnya. Kenyaman ini BUKAN karena saya menganggap diri juga cerdas (aghh... jauhhh banget saya dari deskripsi cerdas itu), tapi lebih dikarenakan saya memiliki kehausan terhadap hal-hal baru dan ”out of the boxes” things, dan dari orang-orang cerdas inilah saya mendapatkannya. Ada aja hal baru yang pasti saya dapatkan dari mereka. That’s why I like them.
Saya rasa, cukup banyak wanita suka dengan pria cerdas. Tapi definisi ”pria cerdas” itu sendiri berbeda-beda bagi setiap orang, bukan?. Saya pribadi tidak sepenuhnya menyebut pria cerdas sebagai mereka-mereka yang lulus dengan predikat cum-laude, menjuarai berbagai perlombaan atau kompetisi, mencapai gelar doktor pada usia yang masih sangat muda, mahasiswa teladan tingkat nasional dan internasional, atau lulusan terbaik dari universitas terbaik di Indonesia atau di dunia dan sebagainya. Bukan kepintaran akademik semacam ini yang menjadi indikator cerdas menurut saya.
Banyak definisi cerdas, tapi di sini saya bicara mengenai kecerdasan versi saya. Dan ini tidak mutlak sifatnya. Orang lain boleh setuju ataupun tidak setuju dengan pendapat saya. Pria cerdas menurut saya di sini lebih didifinisikan sebagai berikut:
- Adalah para pria yang memiliki kemampuan untuk menyerap pengetahuan dari sisi filosofi keilmuannya; Instead of mengejar nilai A atau B, pria-pria ini memahami ilmu yang diperolehnya dengan mengambil intisari filosofinya. Biasanya ilmu-ilmu itu termemori kuat dalam otaknya karena mereka memahaminya mulai dari dasar filosifinya. Catatan: orang cerdas bukan berarti harus menguasai banyak hal/bidang lho ya.
- Para pria yang dapat memahami (dan apalagi menjalani) berbagai filosofi kehidupan. Saya suka terbengong-bengong dengan berbagai analogi mereka dalam bentuk ungkapan tidak serius (joke) atau pernyataan serius dalam memahami kompleksitas kehidupan.
- Para pria dengan karakter ”pria banget” juga adalah pria-pria cerdas. Karakter tersebut misalnya: kemampuan untuk memahami dengan baik apa yang diinginkannya dalam hidupnya, kemampuannya mengambil keputusan, kemampuannya untuk bertanggungjawab terhadap setiap keputusan (termasuk menanggung konsekuensi kesalahan), keberanian untuk mengakui kelemahan, dan sebagainya. Intinya, adalah pria-pria yang matang secara emosionally maupun spritually.
Emm... pria cerdas sendiri bukan sebuah paket lengkap berisi seluruh kriteria tersebut. Togh mereka juga manusia yang punya kelemahan "sometimes win and sometimes lose". Sebenarnya, kekaguman saya terhadap para pria cerdas ini bukan hanya berkaitan dengan romantisme percintaan saja, tapi juga relationship persahabatan dan sebagainya. Beruntung saya memiliki orang-orang macam ini di dalam kehidupan saya. Alison adalah salah satunya. I am lucky and blessed to have him. Selain itu beberapa teman juga termasuk dalam klasifikasi cerdas ini misalnya: pak baban, pak rahmat, pak tri, pak desy, pak adisur, mas haris faozan (atasan kantor); pak cik, mas fel, mas zar, mas ahmad (teman dan senior); rudi, icoes, fer (temen satu angkatan), ramdhan (temen hang-out); yogi (teman kelas sekarang) dan lain-lain.
Having them is such a blessing for me (Untuk hal tersebut, saya ingin mengucapkan berjuta terima kasih). Semoga ke depan, saya menemukan lebih banyak lagi teman-teman cerdas, yang akan mewarnai hidup saya.
Saturday, January 31, 2009
A Good Bye For A While
Khusus buat temen-temen muda di Litbang; Yudi, Rida, Ella, Wuri, pesenku, jangan pernah takut dengan tantangan, jangan pernah takut untuk berdiri di barisan terdepan, jangan pernah gamang ketika "dipaksa" jadi pemimpin, karena di sana ada banyak buah manis yang bisa kamu rasakan. .............."Seorang pahlawan bukanlah mereka yang lari terbirit-birit menyelamatkan diri sendiri dari medan perang, tapi adalah mereka yang berdiri (meski babak belur) dengan gagah berani di barisan terdepan......". ok guys, semangattt!!!
Thursday, January 22, 2009
Saat kita masih perlu banyak belajar…
Monday, January 12, 2009
Just let it be…
Thursday, December 18, 2008
Persahabatan Bagai Kepompong...
Mengubah ulat menjadi kupu-kupu
Persahabatan bagai kepompong
Hal yang tak mudah berubah jadi indah
Persahabatan bagai kepompong
Maklumi teman hadapi perbedaan
Persahabatan bagi kepompong
Wednesday, October 22, 2008
Independent VS Childish
Sebagian besar orang, terutama temen-teman kantor mengenal saya sebagai orang yang mandiri dan tidak manja. Pada umumnya memang hal itulah yang terlihat dari cara saya berfikir dan bersikap (narsis mode on*). Dan ketika kemandirian seseorang diasosiasikan dengan tata urutan kelahiran dimana anak-anak sulung biasanya akan tumbuh menjadi anak-anak yang mandiri ketimbang anak bungsu yang berkecenderungan manja, maka tak jarang yang terkejut saat mengetahui bahwa saya adalah anak bungsu di keluarga. Saat saya memutuskan kuliah di Bandung, situasi dan kondisi jauh dari orang tua, akhirnya membawa saya pada pola pikir yang berbeda -Harus mandiri dan tidak manja-. Apalagi dengan kenyataan bahwa orang tua saya memiliki keterbatasan finansial untuk support saya, maka mau tidak mau saya harus tabah menjalani hidup di tanah rantau. Cailah... hehehe... Maka menjadi mandiri adalah satu-satunya pilihan.
Sampai dengan saat ini, saat saya sudah menikah, dan memiliki pekerjaan yang lebih settle, saya pun tetap ingin membangun diri sebagai pribadi yang independent. Tapi jauh di dalam sana... tidak dapat disangkal bahwa saya sebenernya memiliki karakter manja. Tidak banyak yang tau memang. Bahkan teman-teman dekat saya. Kalopun ada yang tau, togh saya tidak pernah berlaku manja sama mereka. Malu dong! Hanya pada beberapa orang tertentu saja saya berani bersikap kolokan. Selain Alison ada seorang teman yang dengannya saya merasa nyaman dan tidak malu untuk berlaku kekanak-kanakan atau kolokan. Hiks.
Monday, September 22, 2008
Kenikmatan Sebuah Fluktuasi Kehidupan
Ini adalah tahun kedua pernikahan saya dan suami. Tahun pertama, kami lewati dengan penuh sukacita (review nya ada di sini). Demikian pun halnya dengan tahun kedua ini. Hanya memang ada yang berbeda kali ini. Dinamisasi kehidupan di tahun kedua ternyata memang lebih seru dan lebih complicated dari tahun pertama. Begitulah.... adanya. Ketawa dulu agh... hehehe...
Di tahun kedua, Gusti Allah yang empunya semesta ini sedang mengajari kami sesuatu yang berbeda dari sebelumnya. Sebagai pihak yang punya kewenangan penuh atas kehidupan ini, Dia memang berhak membawa kita kepada jalan yang mulus, tapi Dia juga berhak mengajari kita melewati jalan berkerikil. Suatu proses fluktuatif. Lihatlah, semester pertama tahun ini seolah semua grafik kehidupan naik dengan mulusnya. Kami dibawa kepada optimisme-optimisme kehidupan hingga akhirnya Dia mengajari kami satu fase kehidupan yang berbeda sejak 3 bulan yang lalu. Dia mengajari kami cara menapaki jalan yang bergelombang. Dia mengajari kami meng-adjust keterbatasan, dan Dia mengajari kami menatap kenikmatan dari sudut pandang yang berbeda.
Nyatanya memang jalan yang sedang kami lewati ini tidak kalah seru dengan jalan-jalan mulus sebelumnya. Beberapa kali saya memang bersungut-sungut. Tapi, suami yang adalah pemimpin dalam perjalanan ini, masih selalu tersenyum. Dia menggandeng tangan saya dan membimbing saya dengan kesabarannya. Bahkan dalam penat dan tekanan pun, dia tetap menunjukkan optimisme bahwa kami pasti bisa melewatinya. Senyum dan bahkan tawanya membuat saya menyadari untuk "membiarkan kehidupan ini bergulir sedemikian adanya sesuai dengan kehendak Yang Maha Kuasa. Bagian kita mengikuti nya saja".
Ini lah salah satu kenikmatan dari sebuah fluktuasi kehidupan. Satu hal yang saya kagum pada proses ini adalah ketabahan dan kesabaran suami saya melewatinya. Saya menatapnya dengan penuh haru. Saya kagum dan bangga punya suami dengan kualitas diri sedemikian rupa. Meski ini belum berarkhir, nyata sudah saya harus mengucap syukur pada Tuhan yang sudah mengijinkan kami melewati jalan ini. Di sini, banyak pelajaran berharga. Thanks babe, I’ m blessed to have u. Sure. :-D
Sunday, July 13, 2008
True Friendship
Tapi ibarat hidup adalah sebuah sistem dan kami hanya sekedar subsistem-subsistem kecil dari keseluruhan sistem kehidupan yang kompleks, maka kami haruslah tunduk pada mekanisme sistem yang diatur oleh Sang Pencipta. Kekuasaan dari Yang Maha Kuasa untuk menciptakan, memelihara, maupun mengambil subsistem yang diciptakanNya merupakan otoritas yang tidak bisa ditiadakan oleh siapapun. Monday, June 02, 2008
"Fluktuasi Energi"
Sejak bekerja di tempat saya sekarang, saya mengalami beberapa kali fluktuasi energi. Energi di sini saya maksudkan sebagai energi dalam bekerja. Ada saat dimana energi bekerja saya menjadi sangat besar, meledak-ledak penuh ambisi. Saat seperti itu, rasanya segala hal pengen saya lakukan. Mimpi dan idealisme saya menjadi bahan bakar setiap harinya. Hanya satu dibenak saya saat itu: bahwa saya ingin berkontribusi dalam perubahan di negeri ini.Mulukkah semua ini? Saya rasa tidak. Selama Merah-Putih itu masih menggetarkan hati dan jiwa, saya rasa semua orang akan melakukan hal yang sama. Dan saya bukanlah tipikal orang yang mencoba mencari "kenyamanan" dalam sistem yang masih perlu banyak dibenahi ini. Saya masih punya nurani dan masih selalu mencoba berkarya dengan hati.
Ahhh.... Tapi nyatanya saya hanyalah manusia biasa yang tidak selalu bisa menjaga konsistensi hidup. Saya menjadi lemah ketika idealisme saya membentur tembok. Saya menjadi rapuh ketika mimpi saya tentang negeri ini seolah bertemu dengan jalan buntu. Energi saya seolah habis berubah menjadi sikap-sikap pesimistis ketika melihat pilihan-pilihan keputusan dibuat lebih pada keteraturan dan bukan terobosan.
Beberapa hari yang lalu, rasanya habis sudah energi yang berkobar-kobar itu. Saya lelah. Saya hampir menyerah.
Saya mencoba berfikir.
Bertemu dan berdiskusi dengan atasan Jumat siang kemaren membuat hati saya luluh. Harapan yang ditebarkannya dalam diri saya, juga mimpi-mimpinya tentang negeri ini membuat saya terhenyak. Saya hampir menangis. Menangis lega. Nyatanya saya masih menemui orang-orang yang memiliki mimpi yang sama dengan saya.
Kembali saya merenung. Mencoba mengumpulkan kembali energi-energi mimpi itu. Mungkin memang proses belajar saya di sini masih harus diteruskan. Entah sampai kapan. Namun biarkanlah saat ini saya melakukan yang terbaik melalui media ini.
Thursday, May 08, 2008
Temporary LDR
Saya dan suami tinggal di Saya sendiri bekerja di sebuah Instansi Pemerintah Pusat yang berkedudukan di Jawa Barat pada bagian Litbang. Bekerja di bidang penelitian juga memungkinkan saya untuk melakukan berbagai perjalanan dinas. Memang tidak seintensif suami, secara saya masih keroco. Biasanya mobilitas jarak dekat seperti ke
Saya dan suami sebenernya tipikal moderat (saya sulit menemukan istilah yang tepat untuk hal ini). Maksudnya, pada dasarnya kami kurang suka dengan Long Distance Relationship (LDR), tapi juga tidak terlalu suka dengan kebersamaan yang terlalu sering. Nah lo bingungkan? Ya begitulah. Kami berada di tengah-tengah. Mengapa demikian? Melihat karakteristik kami, rasanya kalo untuk LDR hati kami tidak terlalu kuat menahan rasa kangen. Hihihi. Sebenernya, suami sempat ditawari bekerja pada sebuah Perusahaan di bidang pertambangan yang site nya di Afrika. Tapi Dia menolaknya dengan salah satu alasan kejauhan (:-D). Indonesia-Afrika itu jauh logh jendral. Dan kami sudah menikah, rasanya gimana gitu kalo jauhan. Hiks. Lagian suami dan teman-temannya sudah merintis usaha konsultannya sejak 2005, sayang ajah kalo ditinggalin. Trus juga, hidup di Bandung itu kagak ada matinye ya bok... alon-alon waton kelakon lah.
Sementara itu untuk “keseringan bersama” kami juga kurang suka. Waduh yang ini jangan disalah-artikan bacanya lho yah… Pada dasarnya, kami memiliki pandangan bahwa hidup ini bukan hanya tentang “pasangan hidup” saja. Di
Waktu "bersama" kami memang masih lebih banyak daripada "tidak bersama". Dan kebersamaan dengan pasangan memang sangat menyenangkan. Kita bisa sharing, becanda, diskusi, pengenalan karakter alias berantem (wakakakak...), dan lain sebagainya. Tapi saat tuntutan pekerjaan mengharuskan kita sejenak tidak bersama secara spatial (halah…), atau diistilahkan temporary LDR, maka biasanya kita gunakan untuk memuaskan aktualisasi ruang pribadi kita. Kadang saya menikmati waktu-waktu sendirian saya saat suami keluar
So, temporary LDR, nikmati ajah. Ada kok sisi positifnya. Jangan takut.
Ps. Buat yang lagi di sebuah hutan di Sumatera Selatan sana, I miss u! :-D



