Tuesday, February 08, 2011

... Perbedaan Bukanlah Kesalahan...

Sebagai manusia, kita akan merasa lebih nyaman bila berbicara dan berinteraksi dengan orang-orang yang cenderung memiliki kesamaan dengan kita. Menurut saya, hal itu wajar bin normal. Karena memang pembicaraan antara dua orang atau lebih akan terasa nyambung bila masing-masing pihak berbicara pada “frekuensi” yang sama. 

Dalam konteks pertemanan sehari-hari, bertemu dan berbicara dengan orang yang memiliki hobby yang sama memang akan lebih nge-klik ketimbang dengan teman dengan hobby berbeda. Sesama pecinta U2 tentu akan lebih nyambung saat ngomongin soal Bono dan The Edge ketimbang dua orang dengan selera musik berbeda. Sesama penggemar film-film triller, tentu akan lebih nyambung omongannya ketika membicarakan film-film seperti Fight Club, The Dark Knight, atau Shutter Island, ketimbang dua orang dengan taste film yang berbeda.  

Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, salah satu yang sering kali kita banggakan dari negara kita, Indonesia, adalah keberagamannya. Kita dengan bangga menyebutkan begitu beragamnya suku bangsa, bahasa, agama dan keyakinan, budaya dan tradisi yang ada di negara kita. Merasa nyaman bila bergaul dalam komunitas yang memiliki kesamaan etnik, agama/keyakinan, dan bahasa, adalah hal yang lumprah. 

Masalahnya, dunia ini penuh dengan perbedaan, dan kita tidak selalu bisa bertemu dengan orang yang “selalu sama” dengan kita. Pun dua orang dengan hobby yang sama, pasti memiliki perbedaan dalam hal-hal lain. Ketika saya, yang tidak terlalu menyukai sejarah, bertemu dengan seseorang yang seolah menjadikan sejarah sebagai passion-nya, bukan berarti saya tidak bisa berteman dengannya, bukan?  Bukankah, saya tinggal duduk diam mendengarkan, sembari sesekali menanggapi ceritanya dan saya mendapat mengetahuan gratis soal sejarah darinya. Hal yang sama semestinya terjadi dalam konteks perbedaan lainnya. Karena menurut saya, sebuah perbedaan akan jadi sangat menyenangkan ketika kita memilih untuk mengganggapnya sebagai sebuah kekayaan, tanpa perlu menjadi sangat bawel kenapa seseorang memilih menjadi berbeda. 

Dimanapun, perbedaan adalah bagian dari kehidupan yang tak terelakkan. Baik dalam konteks pertemanan maupun kehidupan berbangsa dan bernegara, perbedaan adalah warna yang mestinya bisa memperkaya kehidupan. Namun, fakta menunjukkan bahwa berkali-kali kita telah gagal memahami makna keberagaman. Berkali-kali kita gagal memandang perbedaan sebagai sebuah kekayaan. Berkali-kali kita tidak mampu menjiwai kebanggaan kita terhadap kebhinekaan Indonesia. Kita malah lebih sering melihat perbedaan sebagai sebuah ancaman, sebagai sesuatu yang harus dimusnahkan. Dan ketika perbedaan dianggap sebagai sesuatu yang meresahkan, dampaknya sungguh mengerikan.  

Saya berfikir, 

Bila perbedaan adalah sesuatu yang tak terelakkan, lantas kenapa kita masih sering sekali menolaknya? Bila perbedaan adalah bagian yang takterhindarkan, lantas kenapa kita malah sering kali mengharamkannya? Bukankah ketika kita tidak bisa menerima keberagaman, kita sebenarnya sedang mengutuki Tuhan? Ketika kita menolak perbedaan, bukankah kita sedang mencibir kebesaran karyaNya?

Mungkin karena nurani kita telah “terkaburkan” oleh fanatisme, sehingga kita tidak bisa melihat dengan jernih makna sebuah perbedaan. “Menjadi berbeda”  bukanlah suatu kesalahan, apalagi dosa. Ia ada dan tidak perlu diperdebatkan keberadaannya. Pun dalam konteks keyakinan, menjadi berbeda bukanlah hal yang  perlu dipersoalkan. Karena bukankah perbedaan adalah bukti keagungan dan keluarbiasaan Tuhan dalam menciptakan manusia. So, mestinya, perbedaan penjadi pengingat kita akan kebesaran karyaNya. Dan bahwa bagian kita adalah menghormatinya (saja).


Kobe, Japan, 8 February 2011

Gambar diunduh dari: http://nihongo.istockphoto.com/stock-illustration-1779882-diversity-hands-vector.php

Sunday, February 06, 2011

Cerita Sebuah Perjalanan

Sebagaimana kebanyakan orang, saya menyukai perjalanan dan tempat baru. Bukan sekedar demi sebuah profil keren untuk ditampilkan di facebook, tapi memang saya menikmati setiap moment dalam perjalanan yang saya lakukan. Saya sangat menikmati proses eksplorasi hal hal baru. Saya menikmati proses berinteraksi, pun dalam diam, di tempat baru saya mendapatkan kesenangan dari sebuah proses mengamati. Passion saya seolah ada disana. That's why, for me, working on itinerary is always much more fun instead of working on economics journals, particularly journals on monetary theory and international finance. Those two subjects are used to put me in many long and tiring nights...  :-D!

Dengan atau tanpa teman, bagi saya perjalanan tetaplah menyenangkan. Menyenangkan karena bagi saya, tempat baru seolah men “quarantee” adanya pengalaman baru di sana. Suasana baru, budaya baru, nilai (values) baru, orang-orang baru adalah variable-variable yang membuat sebuah perjalanan menjadi bermakna “seru”. Sebagaimana kata seru dalam tanda kutip, masing-masing orang memiliki privilege untuk mendefinisikan sesuai keinginannya. Bagi saya pribadi, “seru” tidak harus lahir dari hal-hal yang menyenangkan. Entah kenapa, sebuah perjalanan selalu membuahkan sesuatu yang tak terduga. Entah ketakterdugaan karena sesuatu yang menyenangkan ataupun kurang menyenangkan. Dan jujur, saya menikmatinya. Saya belajar darinya.

Eropa dan Asia timur adalah salah satu mimpi saya tahun lalu. Karena pas itu sudah pasti berangkat sekolah ke Jepang, saya merencanakan perjalanan saya ke Europe sekalian. Pas itu, pikir saya: mumpung ntar  lagi sekolah di Jepang, saya pengen maen ke Eropa. Kalimat ini mungkin terdengar kurang rasional buat sebagian orang. Bagaimana tidak, it takes 19 hours (plus 3 hours transit in Hongkong) from Kansai to Amsterdam. It means, penggunaan kata “mumpung” pada kalimat tersebut kuranglah tepat, karena butuh niat di sana. It also takes 110.000 yen for asking Cathay Pacific to fly me from Kansai to Amsterdam. It’s not cheap. Sekali lagi, butuh niat di sana. Tapi saya mendefinisikan kata “mumpung” dari sudut pandang yang berbeda. Dan, “mumpung” disana saya definisikan sebagai mumpung saya punya waktu untuk melakukannya. Hehehe... :-p

Entah sebuah keberuntungan atau “keapesan” (hehehe...), saya keterima sekolah di Kobe University yang mensyaratkan ngambil matakuliah 20 sks, yang bikin orang pontang panting ujian, ngerjain papers dan presentasi. Entah sebuah anugerah atau “musibah”, saya terlahir dengan beberapa idealisme yang kadang menempatkan saya kedalam beberapa masalah. Misalnya kewajiban ambil kuliah cuman 6 kuliah + 2 seminar, saya genapkan dengan mengambil 8 kuliah + 2 seminar. Dan idealisme itu mahal harganya, jendral!... :-D. Butuh malam-malam panjang penuh dengan begadang di sana.

Keruwetan karena “padatnya” kuliah belum cukup nampaknya, sehingga mesti ditambah dengan keruwetan ketika mesti berurusan dengan kedutaan Belanda di Tokyo. Saya tinggal di Kobe, it’s about 8 hours away from Tokyo by bus or less then 3 hours by shinkansen (super fast train). But I prefer went to Tokyo by bus instead of gave up 30.000 yen as a trade off if I go by shinkanshen (ngirit... ngirittt). Sebenernya, Konsulat jendral Belanda ada yang di Osaka yang jaraknya 45 menit dari Kobe, tapi apesnya saya, sejak Aprl 2010, Konjen Belanda yang di Osaka tidak melayani pembuatan Visa Schengen lagi. Hehehe... berhubung invitation letter saya dari seorang temen di Belanda, mau gak mau saya apply ke kedutaan belanda, which means I have to go to Netherland Embassy in Tokyo in person. Lagi-lagi, butuh niat disana.

Karena saya baru nyampe di Jepang tgl 29 September 2010 dan apply visa schengen sekitar pertengahan november 2010, membuat pihak kedutaan belanda seolah ragu-ragu untuk mengabulkan permohonan visa saya. Karena itu berarti rekening bank saya baru berumur 1.5 bulan pada saat proses aplikasi. Note: biasanya kedutaan memerlukan umur rekening minimal 3 bulan. Hahaha... bener-bener dah. Berkali-kali pihak kedutaan menekankan bahwa umur rekening saya masih baru. Saya pasrah saja pas itu, lha wong emang rekeningnya masih baru (plus gak bawa buku tabungan yang Indonesia pulak).  Pas itu, tiket sudah ditangan saya. Brubung itu tiket promo yang tanggalnya fixed, posisi saya pas itu cukup “kritis”, artinya kalau visa saya tidak diapprove dan saya batal berangkat, maka saya akan terkena cencellation fee 40%. Deg-degan abis!!, Tapi saya beruntung, sekitar seminggu kemudian, saya berhasil mendapatkan financial quarentee dari sponsor yang langsung saya emailkan ke Kedutaan Belanda yang di Tokyo. Gotchaa... 2 minggu kemudian saya dapet berita bahwa visa schengen saya diapprove. 

Keribetan belum berakhir karena saya baru mendapatkan paspor saya dari Kedutaan Belanda 3 hari sebelum berangkat, saat itu saya juga masih menyimpan kestressan akibat masih harus presentasi sehari sebelum berangkat. Fyughhh... bener-bener!! Akhirnya tanggal 22 Desember dengan berbekal satu ransel dan 1 tas slempang saya berangkat dari Kansai International Airport menggunakan Cathay Pasific, transit di Hongkong dan kemudian mendarat di Schipol, Amsterdam.

Meski diawali dengan keribetan dan kekacauan saat persiapan, perjalanan ke eropa kemaren termasuk perjalanan yang saya syukuri dan saya bilang sangat berkesan. Sebagaimana saya bilang sebelumnya, setiap orang pasti berharap hal-hal menyenangkan terjadi dalam hidupnya, termasuk dalam perjalanan yang dilakukannya. Tapi faktanya, perjalanan sering kali membuahkan sesuatu yang tak terduga. Sesuatu yang tak terduga itu bisa jadi menyenangkan ataupun tidak menyenangkan. Entah apa pendapat orang lain tentang cerita tidak enaknya di perjalanan, bagi saya pengalaman tidak selalu diperoleh dari hal hal yang menyenangkan. 

Sebenernya, beberapa “kekacauan” juga terjadi selama perjalanan ke eropa kemaren. Pesawat saya dari Eindhoven ke Madrid dicancel gara-gara badai salju yang berakibat tiket pesawat dari Madrid ke Paris hangus (dan kudu naik bus dari Amsterdam ke Paris), sedikit konflik pertemanan yang berdampak pada  tiket pesawat Berlin-Amsterdam juga rela saya hanguskan karena sesuatu hal, masalah kedinginan karena itulah winter pertama saya, dan beberapa hal lainnya. Tapi itu semua memberi pelajaran berharga buat saya.  Setidaknya saya paham how to deal with these such situations.

Cerita menyenangkan dari sebuah perjalanan pastilah ada. Banyak malah. Seperti cerita saat ngerayain natal bareng dengan keluarga Om John ama Tante Dorthy, WNI yang dari tahun 1978 tinggal di Belanda, ketemu temen-temen kuliah dulu di ITB dan UI, kenalan dengan temen-temen baru, mengunjungi sorbonne yang bikin jantung deg-degan, ngeliat Lovre dan Versailess yang merupakan bagian dari keingintahuan karena cerita sejarah dan cerita film, menikmati malam tahun baru di paris meski gak ada kembang api (hihihi... ), menjajal transportasi di negara-negara eropa, melihat budaya dan kebiasaan orang, berinteraksi dengan backpackers lainnya, ketemu orang-orang seru dan inspiring, ngeliat cowok-cowok ganteng (halah), berbagi cerita dengan temen-temen, dan lain sebagainya.

So, bagi saya, 18 hari perjalanan ke Eropa bulan lalu adalah perjalanan “seru” karena itu adalah bagian dari mimpi-mimpi lama. Dan bagi saya, tidak ada hal yang lebih seru dari saat kita bisa berjalan didalam hal-hal yang kita pernah impikan. Kita memang tidak pernah bisa menduga rangkaian cerita akhir dari sebuah perjalanan, makanya, nikmati saja kemana angin membawa. Satu hal “seru” lain dari sebuah perjalanan : bisa jadi separuh hatimu harus tertawan di sebuah tempat yang membuat kamu begitu ingin menikmati kenangan-kenangan saat kamu di sana... :-)

Kobe, Japan, 6 February, 2011

gambar diunduh dari http://www.istockphoto.com/stock-photo-407308-backpackers.php

Thursday, October 14, 2010

Antara Teman dan Konflik

Ada kalanya, ujung hari kita berakhir dengan gelak tawa, tapi ada pula saatnya air mata menjadi bumbu “pahit” yang menutup senja hari kita. Sebabnya pun bermacam. Salah satunya adalah karena teman.  

Ketika kita dewasa, teman, bisa teman kantor, teman kuliah, teman dari lingkungan tetangga, dll, adalah pihak yang paling banyak berinteraksi dengan kita ketimbang orang tua. Dengan segala keunikan dan keragamannya, teman bisa membawa kita ke dalam berbagai bentuk “kesenangan”. Hangout bareng, nongkrong ngopi bareng, ngegosip bareng, ngomongin ekonometrik bareng (.. :-p), diskusi politik bareng, nonton konser musik bareng, gila-gilaan di tempat karaoke bareng, atopun sekedar duduk di rumah dan berbalas celaan adalah hal-hal menyenangkan bila dilakukan bersama teman. Saat seperti itu, bisa dibilang teman adalah sumber “kesenangan”. 

Namun ternyata, frekuensi berbicara dua orang tidaklah selalu sama. Perbedaan ini bisa jadi karena sensitivitas radar penerima gelombang masing-masing orang yang terlalu tinggi, atau bisa juga radar pemancar gelombang kita yang kurang sensitif. Akibatnya frekuensi pembicaraan kita menjadi berbeda alias tidak-nyambung. Ketidak-nyambungan ini bisa bervariasi, dari level ringan hingga berat. Pada level berat, bisa dibilang teman adalah sumber konflik.

Pada situasi ini, dua orang yang berteman bisa jadi memiliki cara berbeda untuk mengatasi konflik diantara meraka. Namanya juga individu yang berbeda, bisa saja nilai (values) yang dianutpun berbeda. Akibatnya tindakan (action) yang merupakan pengejawantahan nilai (values) tersebut juga menjadi berbeda.  Menyatakan kekesalan secara terang-terangan, ataupun justru banyak diam adalah pilihan.
Saya pribadi , sebenarnya tergolong seorang extrovert yang cenderung memilih option pertama dalam menyelesaikan sebuah konflik, tapi tahun-tahun terakhir ini menjadi sedikit berbeda ketika saya lebih memilih untuk menjauhkan diri dan berdiam sementara waktu ketimbang menjadi “terlalu boros dengan kata-kata dan energi”. Entahlah, saya merasa “aman” dengan pilihan ini. 

Terlepas dari pilihan penyelesaian konflik yang saya ambil, bagi saya, teman tetaplah teman. Tidak ada yang bisa mengubahnya. Tidak butuh waktu lama bagi saya untuk mengampuni, pun tidak ada gengsi saya untuk meminta ampun. Saya meyakini, bahwa konflik hanyalah bentuk fluktuasi situasi yang akan menjadi warna-warna indah dalam kehidupan pertemanan.  Mungkin suatu hari, sebuah konflik justru akan dikenang karena merupakan bagian dari proses pendewasaan. Semoga.

Kobe, 14 October 2010.

Friday, April 23, 2010

Refleksi di Ujung Hari

Seorang teman curhat kemaren malam, mengisahkan kehidupannya yang sedang bermasalah. Saya terdiam mendengarkan dan tidak banyak bicara. Entahlah, seolah hilang semua perbendaharaan kata penghiburan untuknya. Mungkin karena saya sendiri sedang "kehilangan" iman terhadap setiap kata-kata bijak yang ada di kepala.

Waktu berlalu, saya lebih banyak diam. Mengingat airmata di ujung hari kemarin membuat saya masih sulit berfikir jernih.

Tapi kemudian saya ingat sebuah kalimat. God's way is God's love, itulah yang diyakini oleh seorang Khan di film "My Name is Khan". Saya suka banget kalimat itu, meski menurut saya, memahaminya bukanlah hal yang mudah karena faktanya, dari sudut pandang manusia, jalan Tuhan "tidak selalu" jalan yang "terlihat" indah, manis, dan mulus. Banyak jalan "sakit" yang mungkin dipakai oleh Yang Kuasa untuk membuka mata atau membuat hati kita mengerti dan memahami sesuatu. Jalan "sakit" tentunya adalah sebuah proses yang tidak mudah, mungkin ada air mata disana. Pun membangun optimisme sebuah ending yang happy bukannya gampang, butuh "iman" disana.

Tapi, kalo mau flashback ke hari-hari yang pernah terlewati, bukankah cintaNya Tuhan terbukti di sepanjang jalan yang kita lalui. Saat kita jatuh, bukankah Dia ada disana untuk menolong. Saat kita takut, bukankah Dia ada disana untuk memeluk. Saat kita terluka, bukankah Dia ada disana untuk menyembuhkan. Saat kita hilang arah, bukankah Dia ada di sana untuk menuntun. Saat kita sendiri, bukankah Dia ada di sana untuk menemani. Bukankah tidak ada alasan satupun untuk meragukan cintaNya? Tidak ada, tapi memang jalan Tuhan bukanlah jalan "instant".

Jadi, bila bangun pagi harimu disambut dengan kabut, bersabarlah, mungkin itu caraNya buat ngajarin kamu untuk belajar lebih mempercayakan harimu padaNya. Bila harimu menjadi sedikit berbeda karena Dia mengijinkan ada airmata di ujung harimu, bersabarlah mungkin itu caraNya untuk "membentuk" karaktermu. Bila jalan yang harus kamu lalui adalah jalan berkerikil atau berlobang, bertekunlah, mungkin itu adalah caraNya buat bilang bahwa kamu harus mengencangkan pegangan tanganmu kepadaNya.

So, cheer up your days friend for God never leave you!

Ruang 401, Depok, 23 april, 2010, 2.14


pic was downloaded from: http://www.google.co.id/imglanding?q=prayer%20images&imgurl



Sunday, April 18, 2010

Artis dan Politik Popularitas

Sebenernya issue tentang artis dan politik bukanlah hal baru. Dan dari dulu, beragam reaksi pun muncul terbagi antara optimistis, netral dan pesimistis. Tapi mungkin kehebohan "cerita" Jupe yang katanya "dipinang" oleh 8 parpol untuk menjadi bakal calon wakil bupati Pacitan 2 minggu terakhir ini menjadi "sedikit" berbeda. Ini menurut saya. berbedanya mungkin karena profil Jupe-nya. Sebagaimana cerita "artis dan politik" sebelumnya, cerita "Jupe dan politik" pun disambut dengan beragam respon, dari yang bernada serius sampai yang bernada banyolan-banyolan.

Meski saya sendiri kurang bisa membayangkan kalau Julia Perez menjadi seorang wakil bupati, tapi dalam konteks ini, Julia Perez tidaklah bersalah apa-apa, karena dia punya hak untuk itu. Bahwa setiap warga negara memiliki hak untuk berpartisipasi di bidang politik termaktub dalam konstitusi negara.Yang saya bingungkan: Apa yang dipikirkan oleh orang-orang dari 8 partai yang mengusung nama Jupe sebagai bakal calon wakil bupati Pacitan? What's in their minds actually? Entahlah.

Fenomena artis dan politik yang merebak beberapa tahun terakhir ini seolah semakin menegaskan bahwa di kancah perpolitikan negeri ini,  popularitas masih "cukup" mendominasi proses pemenangan suara publik, -sebuah politik popularitas, artinya the more popular you are, the more chance you have to be elected. Saya pribadi bukannya tidak setuju bahwa popularitas itu penting, tapi menurut saya, popularitas hanyalah sekedar berperan sebagai entry point saja. Lagi pula, popularitas mestinya tidak dimaknai sekedar seberapa banyak masyarakat mendengar atau familiar dengan sebuah nama. Tapi mestinya dipahami sebagai "popularitas dari sebuah kredibilitas". Kredibilitas dimaksud adalah kredibilitas untuk mengemban tugas dibidang politik dan pemerintahan, bukan bidang entertaintment.

Kredibilitas bidang politik dan pemerintahan bukan sesuatu yang bisa dilakukan secara otodidak, karena ini menyangkut hajat hidup orang banyak. Anda tidak bisa berstrategy sekedar "coba-coba" dalam memimpin karena disana jutaan jiwa bergantung pada keputusan yang anda ambil. Maka ketika kriteria popularitas diagung-agungkan, Pilkada hanya sekedar akan berhenti pada tercapainya proses politik yaitu "terpilihnya kepala daerah" saja, sementara proses pembangunan (terutama ekonomi) yang menjadi core demokrasi untuk 5 tahun selanjutnya hanya akan menjadi ajang "coba-coba".


Saya pribadi setuju dengan pernyataan Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi, yang mengungkapkan bahwa pemerintah akan merevisi UU No 32 tahun 2004 khususnya pasal mengenai pemilihan Kepala Daerah. Bahwa nantinya akan ada persyaratan tambahan untuk meloloskan bakal calon yaitu syarat berpengalaman di parpol, organisasi kemasyarakatan, atau pernah menjadi anggota legislatif. Meski belum tentu akan "menjamin" kepastian ketercapaian tujuan dari proses demokrasi, menurut saya hal tersebut tujuannya baik. Selain untuk meminimalisasi politik popularitas juga untuk menyaring orang-orang "kredible" di kancah Pilkada. Harapan akhirnya adalah tercapainya tujuan "inti" dari demokrasi yaitu meningkatnya kesejahteraan masyarakat.

gambar karikatur diambil dari web ini: http://ardyaweb.wordpress.com/2008/12/01/karikatur-artis-pilkada-2008/





Tuesday, April 06, 2010

Korupsi dan Jebakan "Harga Diri"...

Ada yang mengusik saya. dan sudah lama saya ingin menuliskannya. mungkin sejak 2 minggu yang lalu tepatnya. Sejak kasus Gayus Tambunan (GT) merebak dibicarakan oleh banyak orang. Kasus GT memang bukan kasus korupsi paling heboh yang pernah terjadi, karena ratusan kasus korupsi dari nominal kecil hingga milyaran pernah terjadi di negeri ini. Sayangnya, sebagian besar kasus itu tidak terselesaikan dengan semestinya. Kenapa tidak semestinya? menurut saya karena tidak-sebandingnya leveling korupsi (tingkat keparahan korupsi yang indikatornya bisa dilihat dari besarnya kerugian negara yang diakibatkannya) dengan ganjaran hukuman yang diberikan kepada si koruptor. Bayangkan! Koruptor milyaran rupiah hanya diganjar hukuman barang 4-5 tahun. Aghh... bener-bener kacow sudah... :-(

Korupsi di negeri ini memang sudah parah. Parah sekali malah. Banyak orang di setiap layer pemerintahan (pusat dan daerah), kepolisian, politisi, kejaksaan, dan sebagainya seolah "menjadikan" korupsi sebagai bagian dari kebiasaan yang dilestarikan. Mereka yang semestinya mengemban tugas melayani masyarakat justru menggunakan kewenangan yang mereka miliki untuk memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya dari kelemahan sistem yang ada, tanpa pernah berfikir berapa juta orang di negeri ini harus menderita karena ulah mereka.

Menyatakan bahwa korupsi adalah contoh "kekhilafan" yang bisa terjadi pada setiap pribadi ketika "rapuhnya benteng diri" bertemu dengan "kesempatan", atau meng-klaim bahwa "budaya korupsi" adalah "hasil bentukan lingkungan", bagi saya tetap saja tidak "tollerable". Bahwa kesalahan adalah bagian dari ketidaksempurnaan manusia dalam menjalani kehidupannya adalah pernyataan tidak terbantahkan yang seringkali menjadi senjata manusia untuk melegalisasi berbagai pilihan-pilihan tindakannya yang melawan norma. Bahwa dosa adalah bagian dari hidup manusia adalah benar. saya tidak akan munafik soal ini karena saya dengan segala keingin-tahuan saya terhadap banyak hal seringkali terjebak dalam situasi pemberontakan terhadap berbagai norma. tapi di value saya, korupsi adalah dosa keji dibandingkan dosa-dosa lainnya. karena darinya dibuahkan kesengsaraan besar sebuah negeri.

Menurut saya, intinya adalah nurani. Banyak orang di negeri ini seolah kehilangan nuraninya. Kita seringkali menempatkan value uang diatas segalanya, hingga tidak sadar bahwa kita sudah men-zolimi rakyat banyak. Kita seolah terjebak dalam pendefinisian harga diri yang melenceng jauh dari nurani dan kata hati. Harga diri yang menempatkan value materi di atas nilai-nilai kemanusiaan sejati. Harga diri yang menempatkan gaya hidup "wah" diatas nilai-nilai hakiki. Suatu kondisi yang menyangkal nurani atas nama "kesenangan diri".

Di sini, korupsi dipandang sebagai jalan singkat menuju pemenuhan "harga diri" yang terdifinisi dengan salah kaprah. Hasilnya, negeri ini dipenuhi oleh ribuan koruptor. Menyedihkan dan memprihatinkan.... :-(

Aghhh........


Saya bermimpi,
seandainya setiap orang merenungi diri, apa isi nurani, mungkin tidak akan ada korupsi lagi di negeri ini.


gambar diunduh dari http://www.cartoonstock.com

Sunday, April 04, 2010

"Depok" di Mata Saya: Dulu dan Kini...

Nge-blog lagi. Setelah sekian lama. Ya, lama saya tidak menyentuh blog ini. Aghh... malu saya. Beneran. Karena sebenarnya tidak ada kesibukan apapun yang bisa saya jadikan alasan untuk tidak ngeblog. Kalo boleh jujur, justru setahun terakhir ini waktu luang saya lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya. Ini karena aktivitas rutin saya akhir-akhir ini hanyalah kuliah dan kuliah. Jadi mestinya produktivitas saya dalam menulis lebih tinggi ketimbang pas saya kerja, tapi ... entahlah, saya seolah kehilangan passion buat ngeblog akhir-akhir ini. Waktu-waktu luang saya banyak terbuang begitu saja untuk sesuatu bernama "facebook-an"... :-D

Ya, sudahlah. lupakan. Hari ini, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, saya kembali nge-blog. Semoga cukup konsisten untuk menekuninya lagi. So guys, here I am again. Hehehe...

Kali ini saya mau bercerita mengenai Depok, kota tempat saya menghabiskan waktu selama setahun terakhir ini. Setelah hampir 10 tahun tinggal di Bandung, pindah ke Depok (meski hanya temporary) di awal Februari 2009 kemarin bukanlah hal yang mudah bagi saya. Kalo bukan karena urusan "sekolah", saya mungkin tidak akan mau pindah ke Depok. Hehehe... Emmm... saya rasa masalahnya bukan di Kota Depoknya deng, tapi di sayanya yang tidak mau ninggalin Bandung. Hehehe.

Be Frankly, Bandung dengan segala kenyamanannya membuat saya tidak terlalu "minat" terhadap "Kota Depok" pada awalnya. Bagaimana tidak? Urusan mata, jelas Depok kalah dari Bandung. Tempat nongkrong di Depok tidak banyak. Kalaupun ada satu ato dua, tetap saja tidak se-cozy cafe-cafe di Bandung. Pun mall-mall di Depok sangat "boring designnya". Maklumlah, saya demen nongkrong anaknya.

Urusan perut, tidak bisa disangkal Bandung adalah gudangnya makanan enak dan murah. Bandingin ama makanan di Depok yang gak variatif dan tidak enak. Nasinya aja keras banget. hikshiks... perut saya kan bukan "selepan beras" (mesin penggiling red). Belum lagi urusan udara. Huaaghhh, Depok panas teuing. Mungkin ada yang menyangkal dan bilang, "Agh kayak Bandung gak panas ajah!". Hehehe... bener, Bandung memang udah panas juga sekarang ini, tapi kalo di Bandung, gerahnya udara siang hari tidak akan terasa lagi kalo kita sudah masuk ke dalam rumah (pahadal rumahnya gak ber AC). Apalagi kalo tinggal di Bandung utara kayak saya. Hehehe...

Alasan terakhir adalah berkaitan dengan urusan hati, dan mungkin inilah alasan terberatnya karena toh tiga alasan pertama tadi hanya butuh waktu untuk penyesuaian diri saja. Berkaitan dengan hati, jauh dari Alison benar-benar bukan ide yang baik buat saya. Hehehe,,, jadi mungkin masalahnya memang bukan karena Depoknya, tapi di sayanya. Maklumlah sejak tahun 1997 saya sudah mulai terbiasa dengan udara Bandung.

Itu opini saya dulu pas pertama kali "tinggal" di Depok. Sekarang, setelah setahun menjadi penghuni gelap tetap kota ini, apakah opini saya berubah?

Berbicara mengenai urusan mata, perut, udara dan hati mungkin opini saya tidak banyak berubah. Bandung is still the best, meski saya sudah mulai menemukan beberapa tempat makan dan nongkrong yang enak di Depok. Tapi value added tinggal di Depok juga besar banget buat saya, bahkan saya mulai bisa bilang bahwa "after Bandung, Depok is a place where my brain grows up much" karena di sinilah saya belajar. Belajar dalam arti sesungguhnya. Iklim kampus yang edukatif, diajar oleh dosen-dosen yang cerdas, berkawan dengan orang-orang yang baik, pinter dan lucu (cenderung gila saya rasa... :-D), membuat hari-hari di Depok adalah hari-hari yang menyenangkan.

Jadi kini, bagi saya, Depok adalah bagian dari proses perjalanan hidup yang saya nikmati dan syukuri, karena saya menemukan banyak pelajaran di sana. Pelajaran tentang arti ketekunan, pertemanan, ketulusan, kasih sayang, air mata, perhatian, kemahabesaran Yang Kuasa dan banyak lagi. Bagi saya, apapun itu adalah sesuatu yang saya syukuri sampai hari ini, yang mudah-mudahan membentuk saya menjadi pribadi yang lebih baik ke depannya.

Tuesday, March 24, 2009

Mana Rute Terpilih Untuk Pengambilan Keputusanmu?

Beberapa waktu yang lalu, saya dan 2 orang temen baik, -Ida dan Diana-, janjian untuk ketemuan. Fyi, janjian kali ini adalah janjian kesekian kali. Setelah janji-janji sebelumnya gagal kabeh. Wis jaaannn...!!! Maklumlah, saya ini berteman dengan orang-orang penting ITB dan konsultan. Makanya kudu sabar-sabar... :-D. Sembari minum kopi di dago dan cela-celaan, kami membicarakan bisnis baru (walaahhh... tumben lho, kita serius!!!), juga membicarakan beberapa hal berkaitan dengan filosofi hidup (hehehe... segitunyaahhh...;-p).
Tulisan kali ini hanya merupakan summary dari apa yang kami bicarakan saat itu. Topik pembicaraan kali ini berkaitan dengan cara pengambilan keputusan. Menurut kami, terdapat 3 rute pengambilan keputusan. Kami bertiga adalah representasi dari masing-masing rute tersebut, hanya dalam tulisan ini saya tidak merinci ”which route belongs to whom”. Bukan itu concern-nya ya boww...
Rute pengambilan keputusan itu sendiri dapat digambarkan sebagai berikut! Semisal ada 3 titik berhenti, yaitu meliputi: 1) Permasalahan; 2) Keyakinan; dan 3) Pengambilan Keputusan. Lebih rincinya sebagai berikut:











Rute I, A Rasional Style
Rute ini menempuh jalur: Permasalahan --> Keyakinan --> Pengambilan Keputusan. Disini pengambilan keputusan dilakukannya karena sudah merasa ”teryakinkan”. Jadi proses ”analisis” (untuk menjadi "teryakinkan") dilakukan sebelum mengambil keputusan.
Misalnya, di antara kami bertiga, sebutlah si A, adalah anak sulung yang terbiasa taking responsibility dan dependable (sangat bisa diandalkan). A bahkan yang paling rasional (level rasionalitasnya nyaris kayak cowok). Meski cewek, gak ada istilah termehek-mehek deh sama rasa yang nggak ”penting-penting”, termasuk dalam hal percintaan sekalipun. Amat sangat logis. Karenanya, saat dihadapkan dengan suatu permasalahan, si A adalah tipikal orang yang akan mengambil pilihan Rute I.
Ok, biar lebih jelas, kita pake contoh kasus. Misal terkait dengan unconditional love, yang jelas-jelas tuh relationship nggak mungkin dilanjutkan (entah karena alasan apapun). Didasarkan atas ”rasionalitas” bahwa apapun bentuk unconditional love itu irrasional dan time consuming, maka si A akan langsung (atau paling tidak nggak butuh waktu lama) mengambil keputusan untuk tidak meneruskannya. A very efective person.
Berdasar diskusi, di satu sisi, dengan memilih rute ini, seseorang nggak buang-buang waktu, tapi disisi lain, dia kurang kaya dengan berbagai rasa. (sok... boleh setuju ataupun enggak dengan pernyataan ini kok... :-p).
Rute II, Adventure Style
Jenis rute kedua melewati jalur Permasalahan --> Pengambilan Keputusan --> Teryakinkan --> Pengambilan Keputusan. Ini style si B. B adalah tipikal orang dengan spontanitas tergolong tinggi. Bahkan cenderung impulsive. B nggak perlu harus ”teryakinkan” terlebih dulu untuk mengambil keputusan. Selama itu ”sreg” di hati, she’ll take it. ”Sreg” di sini bisa dijelaskan sebagai suatu kondisi dimana adrenalin dan curiousity terpicu untuk mengetahui gimana pengalaman”didalamnya”. Proses analisis untuk menjadi "teryakinkan" dilakukan setelah mengambil keputusan . Makanya ada keputusan berikutnya.
Taruhlah pada contoh kasus, unconditional love. Kalo si B ‘sreg” untuk menjalaninya, gak peduli itu irrasional dan time consuming, she’ll go for it. Eventhough, she knew exactly that such a thing against values. Parah ya bow?? Mungkin!! Tapi sebenernya, she keeps setting up the limitation. Sebenernya secara rasio, si B menyadari bahwa it wouldn’t work, tapi dia pengen tau sebentaaaarrr aja, relationship jenis ini gimana rasanya yaahhhh??? Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, pada rute ini, proses analisis untuk menjadi "teryakinkan" dilakukan sembari 'menjalaninya"
So, alasan pastinya: pengen tau rasanya gimana dan pengen tau bisa bertahan sampai titik limitasi mana. Pada titik tertentu, setelah si B “nggak sreg” lagi, dan dah ngerasa bahwa di titik itulah dia “mesti” berhenti, lantas dia akan buat keputusan baru to quit from it.
Bisa dibilang, rute ini memang buang-buang waktu banget, hanya orang jenis ini akan punya “kekayaan rasa" lebih banyak. Tapi biar sukses menjalani rute ini, pasca pembuatan keputusan kedua, gunain dengan benar rasionalitas loe, jangan kebanyakan termehek-mehek. Bahaya tu!!
Rute III, Unclear Style
Jenis rute ketiga mengambil jalur: Permasalahan --> Teryakinkan --> Tapi tidak berani mengambil keputusan. Hampir sama dengan rute I, orang yang mengambil rute ini biasanya sangat rasional, saat dihadapkan pada suatu kondisi/permasalahan, dia perlu melakukan proses ”analisis” sampai merasa ”teryakinkan”. Hanya masalahnya, setelah ”teryakinkan" ni orang tidak berani mengambil keputusan. Akibatnya nggak jelas mo kemana dan suka mumet sendiri. Hahaha... Rute ini juga cukup time consuming dan kaya "rasa", hanya bentuk pengalamannya ”sedikit” berbeda dengan pengalaman yang dirasakan oleh pengambil rute II.
Basicly, pemilihan rute pengambilan keputusan ini”melekat” pada karakter” orang. Bahkan, tulisan ini sebenernya didasarkan atas observasi terhadap ”pola-pola” yang biasa diambil oleh masing-masing kami. Entah benar ataupun salah, tapi itulah kesimpulan sejauh ini. Setiap orang boleh setuju maupun tidak terhadap tulisan ini.
So, kamu termasuk tipikal pengambil keputusan dengan Rute yang mana?

Saturday, March 07, 2009

Sebuah Idealisme Bernama ”Kepuasan Intelektual”

Berkaitan dengan pekerjaan, ada beberapa sifat buruk saya (sebenernya saya punya banyak sifat buruk, tapi yang diceritain 3 aja... hihihi..:-D). Pertama, saya bukan tipikal pekerja keras. Bukan sama sekali. Mungkin banyak orang melihat saya sebagai hard worker, tapi pada kenyataan sebenarnya saya memiliki kecenderungan sebagai ”pemalas”. Nonton film, maen/hang out, nongkrong sama teman-teman, makan, tidur dan internetan adalah hal-hal yang saya sebut sebagai ”kesenangan hidup”. Intinya, saya ini penikmat hidup. Beneran. Bahkan, saya bisa jadi memilih hang out sama temen-temen saat semestinya saya harus menyiapkan ”something serious” untuk esok harinya. Huhuhu... parah!

Kedua, saya tipikal orang yang cuek dan sembarangan. Temen-temen kantor saya tau banget bagaimana kondisi meja kerja saya yang tidak pernah rapi dan selalu berantakan. Parahnya, saya tidak merasa terganggu dengan meja kerja yang ”semrawut” tersebut. Kalopun sekali waktu saya mencoba merapikannya (hal ini terjadi jika tiba-tiba dapet wangsit abis kesamber petir..:-p), paling hal itu akan bertahan barang 2-3 hari saja, selebihnya berantakan lagi. Hahaha... entahlah kenapa demikian. Bawaan orok sepertinya.

Ketiga, saya punya kecenderungan gak on-time. Hihihi... ngaku nih! Mungkin karena saya terbiasa tidur larut, maka bangun pagi adalah masalah besar bagi saya. Dulu, saat saya bekerja di konsultan, hal ini bukan masalah, tapi sejak 3 tahun yang lalu, saat saya berkeputusan bekerja kantoran dengan office hour 7.30-16.00, beberapa kali kebiasaan buruk ini membawa masalah. Makanya dalam hal absensi saya termasuk bagian dari ”teladan buruk” di kantor, suka telat datang soalnya. To be honest, meski saya punya alasan bahwa total jam kerja saya pada moment-moment tertentu sama atau bahkan jauh lebih banyak dari jam kerja semestinya, saya merasa tetap harus belajar banyak soal satu ini. So, don’t judge me ya. I keep trying to be punctual.

Dari beberapa sifat buruk yang saya miliki tersebut, saya tetap merasa bersyukur bahwa saya masih dianugerahi nilai-nilai (values) yang membangun sebuah idealisme hidup termasuk dalam bekerja. Beberapa idealisme ini men-driven hidup saya. Salah satunya saya sebut sebagai Idealisme ”Kepuasan Intelektual”.

Saya memang bukan pekerja keras, hanya saya adalah tipikal ”responsible person”. Apapun tanggungjawab yang diberikan, pasti saya lakukan ”sebisa” mungkin. Pantang bagi saya bilang ”nggak bisa”. Saya menganggap tanggungjawab sebagai sebuah ”tantangan”. Even kalo saya diserahi tanggungjawab untuk menghandle hal-hal diluar job description saya, I’ll do it. No matter what. Resah rasanya bila membiarkan sesuatu berjalan menuju ”tak tentu arah” hanya karena tidak ada yang mau/mampu menanganinya (sementara kita jelas-jelas berada di dalam sistem tersebut). Jengah rasanya bila kita tidak melakukan sesuatu semaksimal mungkin yang bisa kita lakukan. Dan yang jelas, it’s definitely nothing to do with money.

Dalam beberapa hal, saya memiliki kecenderungan”pola berfikir” yang berbeda dari orang lain. Saya bukan tipikal orang yang inggih-inggih manut atau ngikutin apa kata orang tanpa mengerti benar apa yang akan atau sedang saya lakukan, bos sekalipun (bukan bermaksud kurang ajar ni). Saya juga senang dengan sesuatu yang baru, berbeda, dan tidak biasa. Berkaitan dengan hal ini, sering kali saya harus rela ”jungkir balik/mati-matian bekerja” dan ”mempertaruhkan waktu pribadi” demi sesuatu idealisme yang disebut sebagai kepuasan intelektual. Be frankly, this often put me in lot of ”stress”. Hehehe... makanya saya suka iri dengan teman-teman yang bisa sedemikian fokus, lurus dan konsisten kehidupannya dan puas dengan metode yang biasa dan umum. Tapi di sisi lain, saya bangga bahwa saya masih memiliki “hal-hal” ini dalam hidup saya.

Wednesday, March 04, 2009

Kepingan Puzzle Kehidupan

I just got home after having chit-chat with a close friend in Citos. Emm… sebenernya rencana untuk kongkow bareng sama si bapak satu ini memang dah dari 2 mingguan yang lalu. Sayangnya karena kesibukan manager satu ini, beberapa kali pertemuan mesti dipending. Hehehe…

Icoes. Temen suka dan duka dari jaman kuliah meski beda jurusan; mulai hangout bareng kalo lagi mo ujian (weitzzz jangan salah… kita hangoutnya kalo mo ujian biar ada alasan nggak perlu blajar… makanya ancur tuh IPK S1 kita… tapi tetep dong lulus 4,5 tahun… hahaha), temen yang saya telpon kalo lagi bete and boring (hahaha…) temen yang selalu saya cela-cela dan demen banget nyela saya balik, temen yang kadang memerankan diri sebagai "setan" dan sewaktu-waktu berubah jadi "malaikat", dan lain-lain deh.

Saya suka dengan cara berfikirnya dan kreatifitas otaknya. Biar kata IP-nya dibawah saya (hahaha... ), emmm dijamin ni orang salah satu yang cerdas jebolan arus kuat ITB…huhuhu… mesti traktir makan-makan di Sizzler ni cus! (secara dah gue puji-puji). Makanya, dari dulu ketemu dan ngobrol dengannya memang jadi suatu hal yang sangat menyenangkan bagi saya. Sure. Apalagi kalo ngebahas tentang filosofi kehidupan. Beughh… dah bisa jadi berapa buku ya...??

Hari ini kita ngebahas tentang Puzzle Kehidupan.

Semisal kehidupan ini diumpamakan sebuah puzzle maka kita adalah salah satu kepingan puzzle yang diharapkan membentuk sebuah gambar yang "bermakna". Pertanyaan selanjutnya, sebagai sebuah kepingan puzzle, apakah peran yang saat ini kita mainkan sampai dengan saat ini “menyempurnakan” atau justru “merusak” gambaran puzzle secara keseluruhan?

Sebagai sebuah kepingan puzzle, kalo kita "tau" gambaran keseluruhan yang akan (ingin) kita bentuk, semestinya kita akan paham dimana menempatkan kepingan puzzle kita agar gambar bentukannya menjadi sempurna. Sayangnya, sering kali kita nggak mengerti kepingan puzzle kita ini mau ditaruh dimana. Sayangnya, sering kali kita nggak paham (atau lupa?) peran yang kita harus mainkan mestinya seperti apa. Instead of berfikir dan bertindak on the track, kita malah disibukkan dengan hal-hal yang "nggak penting".

Merenungkan hal ini bikin air mata saya ingin tumpah rasanya.To be honest, i keep struggling to know and to understand this.

Tuesday, February 17, 2009

Pria macam apa yang dapat menaklukan hatimu?

Hari ini, pas makan siang di kantin, seorang teman sekelas, cewek, bertanya sama saya, ”Kris, pria macam apa yang bisa menaklukan hatimu?” Mungkin setiap wanita akan memiliki jawaban yang beda-beda terhadap pertanyaan ini. Bisa karena kebaikannya, kegantengannya, ke-macho-annya, ke-seksi-annya (boso opo ini?), kekayaannya, dan sebagainya. Itu sah-sah saja. Tidak ada jawaban benar ataupun salah atas pertanyaan ini. Togh ini bicara mengenai apa yang menyangkut ”kenyaman hati” yang mana relativitasnya sangat tinggi.

Tapi bagi saya pribadi, pria cerdas adalah jenis pria yang bisa menaklukan hati. Mereka adalah laki-laki yang sering kali membuat saya terkagum-kagum sambil meneriaki dalam hati, ”Anjaasss... cerdas banget ni orang!”. Mereka juga adalah orang-orang yang membuat saya nyaman berada di dekatnya. Kenyaman ini BUKAN karena saya menganggap diri juga cerdas (aghh... jauhhh banget saya dari deskripsi cerdas itu), tapi lebih dikarenakan saya memiliki kehausan terhadap hal-hal baru dan ”out of the boxes” things, dan dari orang-orang cerdas inilah saya mendapatkannya. Ada aja hal baru yang pasti saya dapatkan dari mereka. That’s why I like them.

Saya rasa, cukup banyak wanita suka dengan pria cerdas. Tapi definisi ”pria cerdas” itu sendiri berbeda-beda bagi setiap orang, bukan?. Saya pribadi tidak sepenuhnya menyebut pria cerdas sebagai mereka-mereka yang lulus dengan predikat cum-laude, menjuarai berbagai perlombaan atau kompetisi, mencapai gelar doktor pada usia yang masih sangat muda, mahasiswa teladan tingkat nasional dan internasional, atau lulusan terbaik dari universitas terbaik di Indonesia atau di dunia dan sebagainya. Bukan kepintaran akademik semacam ini yang menjadi indikator cerdas menurut saya.

Banyak definisi cerdas, tapi di sini saya bicara mengenai kecerdasan versi saya. Dan ini tidak mutlak sifatnya. Orang lain boleh setuju ataupun tidak setuju dengan pendapat saya. Pria cerdas menurut saya di sini lebih didifinisikan sebagai berikut:

  1. Adalah para pria yang memiliki kemampuan untuk menyerap pengetahuan dari sisi filosofi keilmuannya; Instead of mengejar nilai A atau B, pria-pria ini memahami ilmu yang diperolehnya dengan mengambil intisari filosofinya. Biasanya ilmu-ilmu itu termemori kuat dalam otaknya karena mereka memahaminya mulai dari dasar filosifinya. Catatan: orang cerdas bukan berarti harus menguasai banyak hal/bidang lho ya.
  2. Para pria yang dapat memahami (dan apalagi menjalani) berbagai filosofi kehidupan. Saya suka terbengong-bengong dengan berbagai analogi mereka dalam bentuk ungkapan tidak serius (joke) atau pernyataan serius dalam memahami kompleksitas kehidupan.
  3. Para pria dengan karakter ”pria banget” juga adalah pria-pria cerdas. Karakter tersebut misalnya: kemampuan untuk memahami dengan baik apa yang diinginkannya dalam hidupnya, kemampuannya mengambil keputusan, kemampuannya untuk bertanggungjawab terhadap setiap keputusan (termasuk menanggung konsekuensi kesalahan), keberanian untuk mengakui kelemahan, dan sebagainya. Intinya, adalah pria-pria yang matang secara emosionally maupun spritually.

Emm... pria cerdas sendiri bukan sebuah paket lengkap berisi seluruh kriteria tersebut. Togh mereka juga manusia yang punya kelemahan "sometimes win and sometimes lose". Sebenarnya, kekaguman saya terhadap para pria cerdas ini bukan hanya berkaitan dengan romantisme percintaan saja, tapi juga relationship persahabatan dan sebagainya. Beruntung saya memiliki orang-orang macam ini di dalam kehidupan saya. Alison adalah salah satunya. I am lucky and blessed to have him. Selain itu beberapa teman juga termasuk dalam klasifikasi cerdas ini misalnya: pak baban, pak rahmat, pak tri, pak desy, pak adisur, mas haris faozan (atasan kantor); pak cik, mas fel, mas zar, mas ahmad (teman dan senior); rudi, icoes, fer (temen satu angkatan), ramdhan (temen hang-out); yogi (teman kelas sekarang) dan lain-lain.

Having them is such a blessing for me (Untuk hal tersebut, saya ingin mengucapkan berjuta terima kasih). Semoga ke depan, saya menemukan lebih banyak lagi teman-teman cerdas, yang akan mewarnai hidup saya.

Saturday, January 31, 2009

A Good Bye For A While

Tidak terasa 2 tahun 10 bulan sudah saya bekerja di tempat yang sekarang. Sepertinya baru kemaren Mas Ake, teman saya, “menyuruh” saya mendaftar di kantor ini, padahal waktunya mepet dan saya sedang di Kereta Api menuju Jogja. Rasanya baru kemaren saya terburu-buru dari Denpasar nyampe Bandung untuk mengikuti tes penerimaan di kantor ini. Rasanya baru kemaren saya mulai bekerja, Eehhh…. tau-tau sudah hampir 3 tahun. Aghh… cepat sekali waktu berlalu ya. Dari awal bekerja sampai hari ini, saya belajar banyak dan masih harus terus belajar lagi, baik dalam hal substansi, manajerial, personal, dan sebagainya.

Kemarin adalah hari terakhir saya bekerja karena Senin nanti saya harus sudah berada di Jakarta untuk mengikuti English fo Academic Purpose (EAP) yang disyaratkan oleh lembaga pemberi beasiswa yang saya peroleh. Ketika pamit sama temen-temen dan bos, ada rasa haru menyusup di hati saya. Aghh… sementara ini, kurang lebih 2,5 tahun kedepan, saya mungkin jarang atau bahkan tidak bertemu dengan mereka. Agh… gak papa, togh hanya untuk sementara. Bukankah memang there always a time for everything? Dan inilah saat buat saya untuk break dari aktivitas bekerja dan fokus pada studi saja.

Tentang sekolah kali ini, saya rasa akan menjadi sedikit berbeda dengan saat saya S1 dulu. Mungkin karena dulu, lingkungan baru di ITB dan tinggal di Bandung menjadi euforia tersendiri buat seorang anak kampung seperti saya, makanya saya berubah jadi orang dengan curiousity yang sangat tinggi terhadap banyak hal, KECUALI studi. Meski saya lulus 4,5 tahun (nggak telat kan?) dengan IP nggak (terlalu) memalukan, tapi saya mengakui kalau saya “kurang” bertanggung-jawab dengan studi saya dulu. Hehehe… jadi malu… makanya saya harus bayar harganya setelah saya bekerja. Yah.. at least I did it so far.

Saya menginginkan sesuatu yang lebih pada sekolah kali ini. Bukan sekedar nilai, bukan sekedar lulus, bukan sekedar gelar, bukan pride karena belajar di luar negeri, tapi lebih dari itu… jauuhh dari itu semua. Sebuah EKSPERTISE. Saya bahkan menolak beberapa projek sampingan karena memang hanya ingin fokus pada satu hal ini. STUDI. Doakan ya.

Khusus buat temen-temen muda di Litbang; Yudi, Rida, Ella, Wuri, pesenku, jangan pernah takut dengan tantangan, jangan pernah takut untuk berdiri di barisan terdepan, jangan pernah gamang ketika "dipaksa" jadi pemimpin, karena di sana ada banyak buah manis yang bisa kamu rasakan. .............."Seorang pahlawan bukanlah mereka yang lari terbirit-birit menyelamatkan diri sendiri dari medan perang, tapi adalah mereka yang berdiri (meski babak belur) dengan gagah berani di barisan terdepan......". ok guys, semangattt!!!

Thursday, January 22, 2009

Saat kita masih perlu banyak belajar…

Saat kesabaran membentur tembok, dan berubah menjadi kekecewaan Saat ketulusan bertemu keangkuhan, dan berubah menjadi ketidakpedulian Saat niat baik berjumpa dengan ucapan kasar, dan berubah menjadi luka hati
Saat semua kesabaran, ketulusan dan niat baik itu redup hanya karena sebuah respon, Saat itulah kamu sebenarnya masih kanak-kanak,
Saat itulah kamu masih berpamrih, Dan saat itulah kebaikanmu masih jauh dari kata "matang"
Tapi sudahlah…. Sementara ini, sudahi saja daripada kamu terluka Sudahi saja sampai kamu benar-benar bisa.

Monday, January 12, 2009

Just let it be…

... but now, I can be wiser … for not blaming my past, all sweet and bad memories, and also myself.
… but now, I can be more calm for not grumbling and keep guestioning why this and that (not) happened in my life.
… but now, I can be more honest … for realizing the logic and realistic situation, for letting all things happened as the way they are.
I’ve done my best this far. Then, so be it…
Now, let’s make the world's smiling.

Thursday, December 18, 2008

Persahabatan Bagai Kepompong...

Ditulis untuk seorang teman baik. Mungkin memang gak penting, tapi kamu harus membacanya, siapa tau kita bisa belajar sesuatu dari tulisan ini.

Persahabatan bagai kepompong
Mengubah ulat menjadi kupu-kupu
Persahabatan bagai kepompong
Hal yang tak mudah berubah jadi indah
Persahabatan bagai kepompong
Maklumi teman hadapi perbedaan
Persahabatan bagi kepompong
Pasti kamu tau lagu itu atau seenggaknya pernah dengar. Menurut kamu, apa sih isi lagu itu? Kenapa persahabatan dianalogikan seperti itu ya? Unik memang. Aku baca blog ini, dan darinya aku belajar sesuatu. Makanya aku mau cerita ke kamu.
Penganalogian yang sangat manis dari kata persahabatan dengan kata-kata kepompong sebagaimana digambarkan pada lagu tersebut dilatar-belakangi oleh sebuah pengetahuan logis bahwa kepompong merupakan suatu fasa yang dialami oleh ulat untuk bermetamorfosis menjadi kupu-kupu. Mendengar kata kupu-kupu, maka yang terbayang adalah serangga yang indah yang terbang dari bunga satu ke bunga lainnya dan membuat taman bunga nampak lebih cantik.
Hi, aku mau flashback dulu tentang kisah persahabatanku dengan kamu, satu dari sekian sahabat yang menempati layer pertama di hatiku. Iya, itu kamu.
Persahabatan antara aku dan kamu. Persahabatan ini memang berawal dari sebuah tempat dan suasana yang tidak terduga. Apakah ini kebetulan? Mungkin saja, aku tidak tau. Atau Tuhan memang mentakdirkan kita bertemu? Entahlah, akupun tidak mengerti. Seingatku, kontribusiku hanyalah pada keisengan untuk meng-sms mu saat perjalanan pulang setelah itu. Tapi percayakah kamu bahwa tidak ada sedikitpun tendensi negatif terhadapmu yang hinggap di kepalaku saat itu? Aku percaya kamu tau itu.
Waktu berlalu.... akhirnya kita dekat. Dan menurutku, persahabatan kita ini unik. Tidak memakan waktu lama untuk membuat kita tau dan paham satu sama lain. Banyak hal sudah kita lewati sampai hari ini. Seneng, sedih, sepetan dan olok-olokan, kebodohan, kemarahan, ngambek, cerita-cerita gak penting, juga perhatian tulus, dan banyak hal lain, semuanya ada di situ.
Persahabatan ini juga mengesankan. Setidaknya buatku. Kita mengalami semua proses menyenangkan, mengasyikkan, dan juga menyedihkan. Berbincang dengan kamu adalah hal yang aku nantikan setiap harinya. Padahal topiknya hanya hal -hal tidak penting seputar film, musik, pekerjaan, mimpi, hobi, masa lalu dan hal remeh temeh lainnya. Pun kala kita bertemu. Aktivitasnya sangat monoton: nongkrong, nonton, makan, masak indomie ataupun nonton tv. Tapi aku menikmati semua itu. Kecerdasan dan kesabaranmu mengesankan hati. Kekeraskepalaan dan kecuekanmu seringkali membuatku kesal dan cemberut. Tapi aku tau kamu mengasihiku dengan tulus. Mengasihiku dengan caramu sendiri, cara yang sedikit berbeda dari cara orang lain yang kutemui.
Tapi, hari ini, mungkin kita harus belajar ”berfikir mendalam” untuk memahami sesuatu yang lain. Memahami bahwa kepompong persahabatan ini haruslah dijaga sedemikian rupa, agar mampu melahirkan kupu-kupu yang indah. Kupu-kupu yang tidak cacat, kupu-kupu yang sempurna, yang akan hinggap dari satu bunga ke bunga yang lain dan membantunya pada proses penyerbukan. Kupu-kupu yang juga akan memperindah taman bunga.
Hari ini, mungkin kita memang harus ”berdiam diri sejenak” di dalam kepompong ini. Bermeditasi dan menyempurnakan diri, agar mampu membentuk kepompong persahabatan kita ini menjadi kepompong yang penuh dengan kebaikan dan manfaat.
Hari ini, mungkin kita harus banyak ”ber-refleksi” untuk menjadi ikhlas atas apa yang sudah terlewati. Buatku pribadi, mengubah kebiasaan selama ini bukanlah hal yang mudah; menghapus keterlibatanmu dari setiap rutinitas hari, adalah sebuah kompleksitas aktivitas yang membutuhkan energi; dan menjadi ikhlas adalah proses yang sangat menyakitkan hati. Aku bahkan mengawali semuanya ini dengan menangis. It isn't hard actually, but painfull. Dan aku tau bahwa ini adalah hal terbaik kita dan untuk kita.
Maafkan aku, menempatkanmu pada posisi yang rumit. Aku tau, aku salah. Dan kamu tau bahwa persahabatan ini sangat berharga buatku. Setelah banyak hal kita lewati, biarlah kita belajar mengasihi dengan segala ketulusan hati. Promise me that someday, we'll make this friendship keep warm and intimate. Sama seperti kamu mengasihiku, aku juga mengasihimu, sahabatku.

Wednesday, October 22, 2008

Independent VS Childish

Sebagian besar orang, terutama temen-teman kantor mengenal saya sebagai orang yang mandiri dan tidak manja. Pada umumnya memang hal itulah yang terlihat dari cara saya berfikir dan bersikap (narsis mode on*). Dan ketika kemandirian seseorang diasosiasikan dengan tata urutan kelahiran dimana anak-anak sulung biasanya akan tumbuh menjadi anak-anak yang mandiri ketimbang anak bungsu yang berkecenderungan manja, maka tak jarang yang terkejut saat mengetahui bahwa saya adalah anak bungsu di keluarga.

Sebenarnya, tidak dapat dipungkiri bahwa saya memiliki kecenderungan manja saat kecil. Apalagi sebagai anak paling kecil, jarak umur antara saya dan kakak laki-laki (mas) adalah 9 tahun, jarak umur yang mungkin cukup jauh untuk semakin menjustifikasi saya memiliki privilege sebagai anak manja.

Saat saya memutuskan kuliah di Bandung, situasi dan kondisi jauh dari orang tua, akhirnya membawa saya pada pola pikir yang berbeda -Harus mandiri dan tidak manja-. Apalagi dengan kenyataan bahwa orang tua saya memiliki keterbatasan finansial untuk support saya, maka mau tidak mau saya harus tabah menjalani hidup di tanah rantau. Cailah... hehehe... Maka menjadi mandiri adalah satu-satunya pilihan.

Pasca lulus kuliah dan akhirnya bekerja, saya pun harus menghidupi diri sendiri dan tidak lagi minta uang pada orang tua. Malu dong, dah gedhe masak masih minta ortu. Bahkan keterbatasan keuangan dan fisik orang tua saya sekali lagi memaksa saya harus menjadi pribadi yang mandiri dan ulet untuk bekerja dan sedapat mungkin men-support mereka. Sidejobs berupa projects, menulis, atau nerjemahin text book, akhirnya jadi salah satu bagian perjuangan saya membangun sebuah kemandirian hidup.

Sampai dengan saat ini, saat saya sudah menikah, dan memiliki pekerjaan yang lebih settle, saya pun tetap ingin membangun diri sebagai pribadi yang independent. Tapi jauh di dalam sana... tidak dapat disangkal bahwa saya sebenernya memiliki karakter manja. Tidak banyak yang tau memang. Bahkan teman-teman dekat saya. Kalopun ada yang tau, togh saya tidak pernah berlaku manja sama mereka. Malu dong! Hanya pada beberapa orang tertentu saja saya berani bersikap kolokan. Selain Alison ada seorang teman yang dengannya saya merasa nyaman dan tidak malu untuk berlaku kekanak-kanakan atau kolokan. Hiks.

Monday, September 22, 2008

Kenikmatan Sebuah Fluktuasi Kehidupan

Ini adalah tahun kedua pernikahan saya dan suami. Tahun pertama, kami lewati dengan penuh sukacita (review nya ada di sini). Demikian pun halnya dengan tahun kedua ini. Hanya memang ada yang berbeda kali ini. Dinamisasi kehidupan di tahun kedua ternyata memang lebih seru dan lebih complicated dari tahun pertama. Begitulah.... adanya. Ketawa dulu agh... hehehe...

Di tahun kedua, Gusti Allah yang empunya semesta ini sedang mengajari kami sesuatu yang berbeda dari sebelumnya. Sebagai pihak yang punya kewenangan penuh atas kehidupan ini, Dia memang berhak membawa kita kepada jalan yang mulus, tapi Dia juga berhak mengajari kita melewati jalan berkerikil. Suatu proses fluktuatif. Lihatlah, semester pertama tahun ini seolah semua grafik kehidupan naik dengan mulusnya. Kami dibawa kepada optimisme-optimisme kehidupan hingga akhirnya Dia mengajari kami satu fase kehidupan yang berbeda sejak 3 bulan yang lalu. Dia mengajari kami cara menapaki jalan yang bergelombang. Dia mengajari kami meng-adjust keterbatasan, dan Dia mengajari kami menatap kenikmatan dari sudut pandang yang berbeda.

Nyatanya memang jalan yang sedang kami lewati ini tidak kalah seru dengan jalan-jalan mulus sebelumnya. Beberapa kali saya memang bersungut-sungut. Tapi, suami yang adalah pemimpin dalam perjalanan ini, masih selalu tersenyum. Dia menggandeng tangan saya dan membimbing saya dengan kesabarannya. Bahkan dalam penat dan tekanan pun, dia tetap menunjukkan optimisme bahwa kami pasti bisa melewatinya. Senyum dan bahkan tawanya membuat saya menyadari untuk "membiarkan kehidupan ini bergulir sedemikian adanya sesuai dengan kehendak Yang Maha Kuasa. Bagian kita mengikuti nya saja".

Ini lah salah satu kenikmatan dari sebuah fluktuasi kehidupan. Satu hal yang saya kagum pada proses ini adalah ketabahan dan kesabaran suami saya melewatinya. Saya menatapnya dengan penuh haru. Saya kagum dan bangga punya suami dengan kualitas diri sedemikian rupa. Meski ini belum berarkhir, nyata sudah saya harus mengucap syukur pada Tuhan yang sudah mengijinkan kami melewati jalan ini. Di sini, banyak pelajaran berharga. Thanks babe, I’ m blessed to have u. Sure. :-D

Sunday, July 13, 2008

True Friendship

Ketika kita menyebut hidup sebagai sebuah perjalanan, maka ada banyak "jenis jalan dan pemandangan" yang kita temui di jalan yang kita lalui. Berbagai jenis jalan dan pemandangan itu bisa jadi merupakan pengalaman yang sangat mudah dilupakan, atau justru amat sangat berkesan.


Bagi saya pribadi, dari sekian pengalaman hidup yang saya lalui sampai hari ini, salah satu bagian dari pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan adalah tentang persahabatan masa kuliah saya. Berteman dan akhirnya bersahabat dengan Mery, Dewi, Lydia, dan Santi sejak masuk ITB tahun 1997 sampai dengan hari ini, adalah salah satu alasan yang membuat saya bisa bilang bahwa masa kuliah adalah salah satu masa yang paling luar biasa dalam hidup saya. Melewati berbagai "jenis jalan dan jenis pemandangan hidup" selama sepuluh tahunan bersahabat dengan teman-teman yang luar biasa ini membuat saya mengerti bagaimana masing-masing kami adalah pribadi yang unik.

Sampai hari ini, telah kami lalui berbagai hal mulai dari Nilai A, Nilai D, gagal ujian, ngulang mata kuliah, sakit, makan indomie, miskin, lulus, kegagalan, kerja, makan enak dan have fun, menikah, hamil, melahirkan, mulai "mapan", dan sebagainya. Kalau saya runut ke belakang, rasanya memang telah banyak hal kami lalui selama persahabatan kami. Banyak hal yang saya petik dan pelajari dari persahabatan ini; kasih yang tulus, canda tawa yang menghibur, dukungan dan doa yang tidak pernah berkesudahan dan berbagai pembelajaran yang lain.

Tapi ibarat hidup adalah sebuah sistem dan kami hanya sekedar subsistem-subsistem kecil dari keseluruhan sistem kehidupan yang kompleks, maka kami haruslah tunduk pada mekanisme sistem yang diatur oleh Sang Pencipta. Kekuasaan dari Yang Maha Kuasa untuk menciptakan, memelihara, maupun mengambil subsistem yang diciptakanNya merupakan otoritas yang tidak bisa ditiadakan oleh siapapun.

Dia, Yang Empunya skenario kehidupan telah mengaturnya bagi kami. Ada kebahagiaan, ada juga kesedihan. Ada sukacita, ada dukacita. Dan sekali lagi, Sang Pencipta telah mengaturnya.
Hari ini, ketika Tuhan akhirnya memanggil salah satu sahabat terbaik kami, Santi, tidak bisa dipungkiri bahwa ini adalah sesuatu yang menyesakkan hati. Bukan hal yang mudah untuk bisa menenangkan diri. Dada yang terisak dan kesedihan yang membuncah, adalah hal yang Tuhan ijinkan untuk kami alami hari ini. Mungkin memang butuh waktu untuk mengerti dan memahami ini. Tapi kami selalu mempercayai bahwa Tuhan adalah Allah yang sempurna dan sempurna juga untuk setiap rancangan-rancanganNya bagi setiap kami.

Selamat Jalan Santi, telah kamu temukan damai dan kasih sejati di pangkuan Bapa Surgawi. Terimakasih untuk kebaikan hati, ketulusan, canda tawa, teladan keteguhan jiwa, dan doa-doa yang kamu berikan selama persahabatan kita. Kamu memang luar biasa. We love u, San!! Always.

Monday, June 02, 2008

"Fluktuasi Energi"

Sejak bekerja di tempat saya sekarang, saya mengalami beberapa kali fluktuasi energi. Energi di sini saya maksudkan sebagai energi dalam bekerja. Ada saat dimana energi bekerja saya menjadi sangat besar, meledak-ledak penuh ambisi. Saat seperti itu, rasanya segala hal pengen saya lakukan. Mimpi dan idealisme saya menjadi bahan bakar setiap harinya. Hanya satu dibenak saya saat itu: bahwa saya ingin berkontribusi dalam perubahan di negeri ini.

Mulukkah semua ini? Saya rasa tidak. Selama Merah-Putih itu masih menggetarkan hati dan jiwa, saya rasa semua orang akan melakukan hal yang sama. Dan saya bukanlah tipikal orang yang mencoba mencari "kenyamanan" dalam sistem yang masih perlu banyak dibenahi ini. Saya masih punya nurani dan masih selalu mencoba berkarya dengan hati.

Ahhh.... Tapi nyatanya saya hanyalah manusia biasa yang tidak selalu bisa menjaga konsistensi hidup. Saya menjadi lemah ketika idealisme saya membentur tembok. Saya menjadi rapuh ketika mimpi saya tentang negeri ini seolah bertemu dengan jalan buntu. Energi saya seolah habis berubah menjadi sikap-sikap pesimistis ketika melihat pilihan-pilihan keputusan dibuat lebih pada keteraturan dan bukan terobosan.

Beberapa hari yang lalu, rasanya habis sudah energi yang berkobar-kobar itu. Saya lelah. Saya hampir menyerah.

Saya mencoba berfikir.

Bertemu dan berdiskusi dengan atasan Jumat siang kemaren membuat hati saya luluh. Harapan yang ditebarkannya dalam diri saya, juga mimpi-mimpinya tentang negeri ini membuat saya terhenyak. Saya hampir menangis. Menangis lega. Nyatanya saya masih menemui orang-orang yang memiliki mimpi yang sama dengan saya.

Kembali saya merenung. Mencoba mengumpulkan kembali energi-energi mimpi itu. Mungkin memang proses belajar saya di sini masih harus diteruskan. Entah sampai kapan. Namun biarkanlah saat ini saya melakukan yang terbaik melalui media ini.

Thursday, May 08, 2008

Temporary LDR

Saya dan suami tinggal di Bandung. Suami saya bersama temen-temannya bikin usaha kecil-kecilan di bidang konsultan pertambangan. Sebagai seorang geologist, suami saya cukup sering keluar kota dan terutama keluar pulau. Hampir setiap bulan. Entah ke Kalimantan, Sulawesi, Sumatra atau Nusa Tenggara atau sekedar presentasi/meeting di Jakarta.

Sejak dari jaman kami masih pacaran dulu sampai dengan saat ini, saya cukup sering ditinggal-tinggal bebergian oleh pacar yang sejak setahunan yang lalu menjadi suami saya. Sekarang sih sudah mendingan, acara bepergiannya tidak dalam durasi waktu yang lama, paling 5 atau 7 hari, dan maksimal 10 hari. Kalau dulu, beughhhh jangan tanya, bisa sebulanan bow. Itulah sebabnya kenapa dulu jerawat saya bisa berkembangbiak secara sporadis gara-gara menahan kangen. hahaha.... (mulai hiperbolik nih).

Sebenernya, dari dulu saya tidak pernah keberatan ditinggal-tinggal bepergian. Saya menyadari itu adalah bagian dari pekerjaan dan tanggungjwabnya. Bukan berarti saya nggak kangen logh yah. Kalo lagi jauhan, kangen dong pastinya. Jadi inget dulu, 2 bulan abis jadian, dia berangkat ke Maulaboh, seminggu setelah bencana Tsunami 2004 sebagai geologist perwakilan IAGI (Ikatan Ahli Geologi Indonesia) untuk mencari titik-titik pemboran air bersih. Fyugghh… saya sempat mewek pas nganterian dia. Hehehe… maklum baru jadian. Hehehe… Pas itu perasaan khawatir selalu menghinggapi hati saya. Lha piye, tiap nelpon (itupun sinyalnya setengah mati susahnya) dia ceritain soal gempa-gempa susulan yang gak ada abisnya. Hiks. Tapi sejujurnya, saya bangga dengan apa yang dilakukannya. I love u babe!

Saya sendiri bekerja di sebuah Instansi Pemerintah Pusat yang berkedudukan di Jawa Barat pada bagian Litbang. Bekerja di bidang penelitian juga memungkinkan saya untuk melakukan berbagai perjalanan dinas. Memang tidak seintensif suami, secara saya masih keroco. Biasanya mobilitas jarak dekat seperti ke Jakarta dan kota-kota di wilayah Jawa Barat biasa dilakukan setiap saat berdasar perintah atasan, sementara dinas ke Samarinda, Pontianak, Surabaya, dan atau keluar kota lainnya (di luar Jawa Barat dan Jakarta) lebih banyak dilakukan pada Bulan Mei-Juli dalam kerangka penelitian. Itu pun dalam durasi waktu antara 2-5 hari saja.

Saya dan suami sebenernya tipikal moderat (saya sulit menemukan istilah yang tepat untuk hal ini). Maksudnya, pada dasarnya kami kurang suka dengan Long Distance Relationship (LDR), tapi juga tidak terlalu suka dengan kebersamaan yang terlalu sering. Nah lo bingungkan? Ya begitulah. Kami berada di tengah-tengah. Mengapa demikian? Melihat karakteristik kami, rasanya kalo untuk LDR hati kami tidak terlalu kuat menahan rasa kangen. Hihihi. Sebenernya, suami sempat ditawari bekerja pada sebuah Perusahaan di bidang pertambangan yang site nya di Afrika. Tapi Dia menolaknya dengan salah satu alasan kejauhan (:-D). Indonesia-Afrika itu jauh logh jendral. Dan kami sudah menikah, rasanya gimana gitu kalo jauhan. Hiks. Lagian suami dan teman-temannya sudah merintis usaha konsultannya sejak 2005, sayang ajah kalo ditinggalin. Trus juga, hidup di Bandung itu kagak ada matinye ya bok... alon-alon waton kelakon lah.

Sementara itu untuk “keseringan bersama” kami juga kurang suka. Waduh yang ini jangan disalah-artikan bacanya lho yah… Pada dasarnya, kami memiliki pandangan bahwa hidup ini bukan hanya tentang “pasangan hidup” saja. Di sana masih ada hal lain yang darinya kita bisa menimba banyak ilmu. Dari pekerjaan (proses aktualisasi diri), dari pertemanan dan persahabatan, dari aktivitas merenung sendirian, aktivitas sosialisasi lain, dan sebagainya.

Waktu "bersama" kami memang masih lebih banyak daripada "tidak bersama". Dan kebersamaan dengan pasangan memang sangat menyenangkan. Kita bisa sharing, becanda, diskusi, pengenalan karakter alias berantem (wakakakak...), dan lain sebagainya. Tapi saat tuntutan pekerjaan mengharuskan kita sejenak tidak bersama secara spatial (halah…), atau diistilahkan temporary LDR, maka biasanya kita gunakan untuk memuaskan aktualisasi ruang pribadi kita. Kadang saya menikmati waktu-waktu sendirian saya saat suami keluar kota dengan jalan-jalan sendiri, nongkrong di kafe, melamun/berfikir, nonton bioskop, jalan sama teman-teman, berkunjung ke rumah sahabat, menulis, dan lain sebagainya. Ini adalah sisi positif yang pertama.

Sisi positif kedua. Setelah berumah tangga, temporary LDR ini menjadi sebuah dinamisasi tersendiri bagi kami. Ada sebuah sensasi yang kami rasakan. Sebuah rasa yang menimbulkan excitement saat menjalani masa-masa berjauhan dan menanti detik-detik pertemuan. Rasa kangen yang membuncah, excitement mendengar dering telpon dan sms mesra darinya. Dan rasa deg-degan menyambut kedatangannya. I really love it.

So, temporary LDR, nikmati ajah. Ada kok sisi positifnya. Jangan takut.

Ps. Buat yang lagi di sebuah hutan di Sumatera Selatan sana, I miss u! :-D